Surat Al-An'am Ayat 109

QS. Al-An'am: 109 · Juz 7 · Makkiyah

وَأَقۡسَمُواْ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ لَئِن جَآءَتۡهُمۡ ءَايَةٞ لَّيُؤۡمِنُنَّ بِهَاۚ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡأٓيَٰتُ عِندَ ٱللَّهِۖ وَمَا يُشۡعِرُكُمۡ أَنَّهَآ إِذَا جَآءَتۡ لَا يُؤۡمِنُونَ

Wa aqsamū billāhi jahda aimānihim la'in jā'athum āyatul layu'minunna bihā, qul innamal-āyātu ‘indallāhi wa mā yusy‘irukum annahā iżā jā'at lā yu'minūn(a).

Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah, "Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah". Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman.

Baca dalam Surat Al-An'am

Tafsir QS. Al-An'am: 109

Penjelasan ayat 109–111 sekaligus.

"Mereka bersumpah dengan Nama Allah dengan segala kesung-guhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat, pastilah mereka beriman kepadaNya. Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah.' Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman? Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka sebagaimana mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permulaannya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 109-110). "Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya me-reka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (Al-An'am: 111).

(109) Orang-orang musyrik yang mendustakan Rasul Muhammad bersumpah ﴿ بِٱللَّهِ جَهۡدَ أَيۡمَٰنِهِمۡ ﴾ "dengan Nama Allah dengan segala kesungguhan." Maksudnya, sumpah yang mereka tegaskan dan mereka tekankan, ﴿ لَئِن جَآءَتۡهُمۡ ءَايَةٞ ﴾ "sungguh jika datang kepada me-reka sesuatu mukjizat," yang menunjukkan kebenaran Muhammad, ﴿ لَّيُؤۡمِنُنَّ بِهَاۚ ﴾ "pastilah mereka beriman kepadaNya." Ucapan yang mereka katakan ini tidak bertujuan baik, akan tetapi tujuannya hanyalah menyangkal bantahan yang ditujukan kepada mereka dan menolak apa yang dibawa oleh Rasul dengan pasti, Allah telah mendukung RasulNya dengan mukjizat-mukjizat yang jelas dan dalil yang kuat di mana jika ia dilihat, maka tidak tersisa sedikit pun syubhat dan persoalan tentang kebenaran sesuatu yang dibawanya. Permintaan mereka terhadap mukjizat setelah itu hanyalah permintaan yang menyusahkan yang tidak perlu dipenuhi. Bahkan terkadang pelarangan untuk menjawab pertanyaan mereka adalah lebih banyak kemaslahatannya bagimu karena sunnatullah yang berlaku pada manusia adalah bahwa orang-orang yang menuntut turunnya mukjizat kepada Rasul-rasul mereka, apabila ia diturun-kan lalu mereka tidak beriman kepadanya, maka Allah menyege-rakan azab kepada mereka. Oleh karena itu Allah berfirman,﴿ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡأٓيَٰتُ عِندَ ٱللَّهِۖ ﴾ "Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah'." Maksudnya, Allah-lah yang menurunkannya jika Dia berkehendak, dan menahannya jika Dia berkehendak. Urusannya sedikit pun bukanlah di tanganku, tuntutanmu kepa-daku terhadap mukjizat bukanlah pada tempatnya. Tuntutan ter-hadap apa yang tidak aku miliki. Seharusnya tuntutan tersebut ditujukan untuk meminta penjelasan ayat yang aku sampaikan kepadamu dan tuntutan penjelasan tentang pembenarannya. Itu telah terjadi. Walaupun begitu tidak bisa dipastikan bahwa sean-dainya mukjizat itu turun, mereka akan beriman dan memperca- yainya. Justru pada umumnya orang yang keadaannya begini malah tidak beriman. Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴿ وَمَا يُشۡعِرُكُمۡ أَنَّهَآ إِذَا جَآءَتۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴾ "Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman?"

(110) ﴿ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ﴾ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka se-perti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada permu-laannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." Kami menghukum mereka jika mereka tidak beriman pertama kali, pada saat itu penyeru mendatangi mereka dan hujjah pun telah tegak atas mereka dengan memalingkan hati mereka, menghalangi mereka dari keimanan, dan tidak memberi mereka taufik kepada jalan yang lurus. Ini adalah keadilan Allah dan hik-mahNya kepada hamba-hambaNya, karena merekalah yang mena-nam untuk diri mereka, pintu telah dibuka di depan mereka tetapi mereka tidak memasukinya. Jalan telah dijelaskan tetapi mereka tidak melewatinya. Jika setelah itu mereka gagal mendapatkan taufik, maka itu sudah sesuai dengan kondisi mereka.

(111) Begitu pula mereka menggantungkan iman kepada keinginan dan kehendak mereka semata tanpa bersandar kepada Allah, itu adalah kesalahan besar. Jika mukjizat-mukjizat besar da-tang kepada mereka seperti turunnya para malaikat kepada mereka, mereka memberi kesaksian kepada Rasulullah tentang risalah yang dibawanya, dialog mereka dengan orang-orang mati dan kebang-kitan mereka setelah mereka mati, dan Kami kumpulkan segala mukjizat di hadapan mereka sehingga ia berbicara kepada mereka berhadap-hadapan, melihat langsung tentang kebenaran sesuatu yang dibawa oleh Rasul, semua itu tidak membuat mereka beriman jika Allah tidak menghendaki mereka beriman. Akan tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengetahui, oleh karena itu, mereka hanya menggantungkan iman mereka kepada turunnya mukjizat, padahal sesuai dengan tuntutan akal dan ilmu, hendaknya tujuan seorang hamba adalah ketundukan kepada kebe-naran, hendaknya dia mencarinya dengan cara yang telah dijelaskan oleh Allah lalu mengamalkannya dan memohon pertolongan kepada Tuhannya dalam mengikutinya, bukan bersandar kepada dirinya, kepada daya dan kekuatannya serta tidak menuntut turunnya muk-jizat-mukijizat yang justru tidak ada manfaat padanya.

Tafsir As-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman), Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di. Terjemahan Indonesia.

Hukum Tajwid QS. Al-An'am: 109

Ayat ini memuat 7 bacaan bertajwid: ikhfa (2), idgham (1), ghunnah (3), qalqalah (1).

Ikhfa

Nun mati atau tanwin (juga mim mati sebelum ba) dibaca samar sambil berdengung.

  • لَئِن جَآءَتۡهُمۡNun mati bertemu ج
  • عِندَNun mati bertemu د

Idgham

Huruf mati dileburkan ke huruf berikutnya yang bertasydid.

  • ءَايَةٞ لَّيُؤۡمِنُنَّTanwin bertemu ل

Ghunnah

Nun atau mim bertasydid didengungkan sekitar dua harakat.

  • لَّيُؤۡمِنُنَّNun bertasydid
  • إِنَّمَاNun bertasydid
  • أَنَّهَآNun bertasydid

Qalqalah

Huruf ق ط ب ج د yang mati, atau di akhir bacaan, dibaca memantul.

  • وَأَقۡسَمُواْق mati

Pasang Quranj di layar utama

Buka Al-Quran sekali ketuk, tampil penuh seperti aplikasi biasa.

  1. 1

    Ketuk di Safari, lalu Bagikan.

    Ketuk Bagikan di Safari.

  2. 2

    Gulir ke bawah, pilih Tambahkan ke Layar Utama.

  3. 3

    Ketuk Tambah. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Ketuk Bagikan di samping alamat situs.

  2. 2

    Pilih Tambahkan ke Layar Utama. Belum ada? Buka halaman ini di Safari.

  3. 3

    Ketuk Tambah. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Aplikasi ini belum bisa memasang situs. Ketuk di pojok layar.

  2. 2

    Pilih Buka di browser, atau salin tautannya dan tempel di Safari atau Chrome.

  3. 3

    Di sana, buka menu lalu Pasang aplikasi lagi.

  1. 1

    Ketuk menu browser.

  2. 2

    Pilih Pasang aplikasi atau Tambahkan ke layar utama.

  3. 3

    Ketuk Pasang. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Klik Bagikan di bagian atas jendela Safari, atau buka menu Arsip.

  2. 2

    Pilih Tambahkan ke Dock.

  3. 3

    Klik Tambah. Quranj terbuka dari Dock seperti aplikasi lain.

Ketuk Bagikan di sini