Surat Al-An'am Ayat 80

QS. Al-An'am: 80 · Juz 7 · Makkiyah

وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشۡرِكُونَ بِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ

Wa ḥājjahū qaumuh(ū), qāla atuḥājjūnnī fillāhi wa qad hadān(i), wa lā akhāfu mā tusyrikūna bihī illā ay yasyā'a rabbī syai'ā(n), wasi‘a rabbī kulla syai'in ‘ilmā(n), afalā tatażakkarūn(a).

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhan-ku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhan-ku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)?

Baca dalam Surat Al-An'am

Tafsir QS. Al-An'am: 80

Penjelasan ayat 74–83 sekaligus.

"Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.' Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu ter-masuk orang-orang yang yakin. Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, 'Saya tidak suka ke-pada yang tenggelam.' Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku.' Tetapi setelah bulan itu tenggelam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.' Kemu-dian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Rabbku, ini yang lebih besar,' maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku meng-hadapkan diriku kepada (Rabb) yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya.' Dan dia di-bantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak mem-bantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah mem-beri petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Rabbku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Rabbku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran (darinya)? (Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukanNya? Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui?' Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Rabbmu Maha-bijaksana lagi Maha Mengetahui." (Al-An'am: 74-83).

(74) Di sini Allah mengatakan, Ceritakanlah kisah Ibrahim dengan menyanjung dan menghormatinya dalam kondisi di mana dia mengajak kepada tauhid dan melarang syirik.﴿ وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصۡنَامًا ءَالِهَةً ﴾ "Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapak-nya (Azar), 'Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan?'" Yang tidak mampu menghadirkan manfaat dan mudarat, dan yang tidak memiliki hak sedikit pun dalam segala urusan. ﴿ إِنِّيٓ أَرَىٰكَ وَقَوۡمَكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴾ "Sesungguhnya aku melihatmu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." Yang mana kamu menyembah sesuatu yang sedikit pun tidak berhak untuk disembah, sementara kamu mening-galkan penyembahan kepada penciptamu, pemberi rizkimu, dan pengaturmu.

(75) ﴿ وَكَذَٰلِكَ ﴾ "Dan demikianlah," ketika Kami memberi taufik kepadanya menuju tauhid dan dakwah kepadanya, ﴿ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴾ "Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi," agar dia melihat dengan bashirah dalil yang kuat dan bukti-bukti yang jelas yang dikandung-nya. ﴿ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ﴾ "Dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin." Karena berdasarkan tegaknya dalil, dia mendapatkan keyakinan dan ilmu yang sempurna dengan segala tuntutan.

(76) ﴿ فَلَمَّا جَنَّ عَلَيۡهِ ٱلَّيۡلُ رَءَا كَوۡكَبٗاۖ ﴾ "Ketika malam menjadi gelap, dia me-lihat sebuah bintang." Mungkin ia bintang yang bersinar, karena peng-khususannya dalam penyebutan menunjukkan bahwa dia lebih daripada yang lain. Oleh karena itu, wallahu a'lam, ada yang menga-takan bahwa itu adalah bintang Venus. ﴿ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴾ "(Lalu) dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Maksudnya, dia berkata, "Inilah Rabbku," dengan nada merendah, namun menentang. Lalu marilah kita lihat, apakah dia berhak memperoleh rubu-biyah? Apakah kita memiliki dalil dalam hal ini? Karena seorang yang berakal tidak layak menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan tanpa bukti dan dalil. ﴿ فَلَمَّآ أَفَلَ ﴾ "Tetapi tatkala bintang itu tenggelam," maksudnya, bintang itu menghilang. ﴿ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلۡأٓفِلِينَ ﴾ "Dia ber-kata, 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'," maksudnya, yang meng-hilang dan bersembunyi dari orang yang menyembahnya, karena yang disembah harus mengurusi kepentingan-kepentingan orang yang menyembahnya, dan harus berfungsi sebagai pengaturnya dalam segala urusannya. Adapun yang tenggelam dalam waktu yang lama, maka bagaimana mungkin dia berhak disembah? Bu-kankah menjadikannya sebagai tuhan termasuk kebodohan besar dan kebatilan yang parah?

(77) ﴿ فَلَمَّا رَءَا ٱلۡقَمَرَ بَازِغٗا ﴾ "Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit," dan dia melihatnya lebih dan berbeda dengan cahaya bintang, ﴿ قَالَ هَٰذَا رَبِّيۖ ﴾ "dia berkata, 'Inilah Tuhanku'." Dengan nada merendah. ﴿ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمۡ يَهۡدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلضَّآلِّينَ ﴾ "Tetapi setelah bulan itu ter-benam, dia berkata, 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat'." Maka dia benar-benar membutuhkan hidayah dari Tuhannya. Dia menya-dari jika Dia tidak memberinya petunjuk, maka tak ada yang mem-beri petunjuk kepadanya. Jika Dia tidak membantunya dalam menaatiNya, maka tiada penolong baginya.

(78) ﴿ فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمۡسَ بَازِغَةٗ قَالَ هَٰذَا رَبِّي هَٰذَآ أَكۡبَرُۖ ﴾ "Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'," daripada bintang dan bulan. ﴿ فَلَمَّآ أَفَلَتۡ ﴾ "Maka tatkala matahari itu telah terbenam," terungkaplah petunjuk untuknya. Pada saat itu hi-langlah kebodohan. ﴿ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ﴾ "Dia berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan'." Yang mana dalil yang benar dan jelas menyatakan kebatilannya.

(79) ﴿ إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ ﴾ "Sesungguh-nya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar," yang hanya milik Allah semata, menghadap kepadaNya dan berpaling dari selainNya. ﴿ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴾ "Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya." Dia berlepas diri dari kesyirikan, tunduk kepada tauhid, dan menegakkan dalil atas itu. Apa yang kami sebutkan dalam penafsiran ayat-ayat ini adalah yang benar, yakni bahwa konteksnya adalah perdebatan antara Ibrahim dengan kaumnya, dan penjelasan batilnya penuhanan terhadap planet-planet ini dan lain-lainnya. Adapun orang yang berpendapat bahwa itu terjadi pada waktu dia masih muda sebagai proses pencarian, maka pendapat ini tidak berdasar.

(80) ﴿ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴾ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku'." Apa gunanya mendebat orang yang mana petunjuk belum jelas baginya? Adapun orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mencapai de-rajat yakin tertinggi, maka dengan sendirinya dia mengajak orang-orang kepada apa yang dipegangnya. ﴿ وَلَآ أَخَافُ مَا تُشۡرِكُونَ بِهِۦٓ ﴾ "Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah." Karena ia tidak akan mampu menda-tangkan mudarat dan tidak bisa menghalangi manfaat sedikit pun dariku. ﴿ إِلَّآ أَن يَشَآءَ رَبِّي شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيۡءٍ عِلۡمًاۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴾ "Kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat meng-ambil pelajaran (darinya)?" Maka kamu pun mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

(81) ﴿ وَكَيۡفَ أَخَافُ مَآ أَشۡرَكۡتُمۡ ﴾ "Bagaimana aku takut kepada sesembahan-sesembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah)," se-mentara keadaannya adalah lemah dan tidak berguna. ﴿ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمۡ أَشۡرَكۡتُم بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ عَلَيۡكُمۡ سُلۡطَٰنٗاۚ ﴾ "Padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan-sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya." Kecuali hanya mengikuti hawa nafsu. ﴿ فَأَيُّ ٱلۡفَرِيقَيۡنِ أَحَقُّ بِٱلۡأَمۡنِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴾ "Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malaikat), jika kamu mengetahui?"

(82) Allah berfirman untuk memberi keputusan kepada ke-dua kelompok, ﴿ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴾ "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keaman-an, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Aman dari ketakutan, azab, dan kesengsaraan serta mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus. Jika mereka tidak mencampur iman dengan kezhaliman secara mutlak, baik itu syirik dan kemaksiatan, maka mereka mendapatkan rasa aman dan hidayah yang sempurna. Jika mereka tidak mencampurnya dengan kesyirikan saja, na-mun mereka masih melakukan keburukan-keburukan, maka mereka mendapatkan pokok hidayah dan pokok rasa aman walaupun ke-sempurnaannya tidak tercapai. Pengertian dari ayat yang mulia ini adalah bahwa orang-orang yang tidak mencapai dua perkara itu, maka mereka juga tidak mendapatkan hidayah dan rasa aman. Akan tetapi bagian yang mereka dapatkan adalah kesesatan dan kesengsaraan.

(83) Manakala Allah menetapkan untuk Nabi Ibrahim de-ngan menjelaskan padanya tentang bukti-bukti yang kuat, maka Dia berfirman, ﴿ وَتِلۡكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيۡنَٰهَآ إِبۡرَٰهِيمَ عَلَىٰ قَوۡمِهِۦۚ ﴾ "Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya." Ibrahim mengungguli dan mengalahkan mereka dengannya. ﴿ نَرۡفَعُ دَرَجَٰتٖ مَّن نَّشَآءُۗ ﴾ "Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat," se-bagaimana Kami meninggikan derajat Ibrahim di dunia dan akhirat. Allah mengangkat pemilik ilmu beberapa derajat bagi yang beramal lagi mendidik. Allah menjadikannya sebagai pemimpin menurut keadaannya, perbuatannya dicermati, langkahnya diikuti, cahaya-nya diambil, dan ilmunya digunakan sebagai pegangan dalam ke-gelapan. Allah berfirman, ﴿ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ ﴾ "Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa dera-jat." (Al-Mujadilah: 11). ﴿ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٞ ﴾ "Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui." Dia tidak meletakkan ilmu dan hikmah kecuali di tempat yang sesuai dengannya, dan Dia lebih mengetahui tem-pat itu dan yang seharusnya.

Ketika Allah menyebutkan hamba dan KhalilNya, Ibrahim dan menyebutkan nikmatNya kepadanya dalam bentuk ilmu, dakwah, dan kesabaran, maka Allah menyebutkan anugerahNya kepadanya berupa anak keturunan yang shalih dan baik, dan bah-wa Allah menjadikan makhluk tersuci dari keturunannya. Alangkah utama dan mulianya dia, yang tidak ada contoh semisal yang mem-bandinginya. Dia berfirman,

Tafsir As-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman), Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di. Terjemahan Indonesia.

Hukum Tajwid QS. Al-An'am: 80

Ayat ini memuat 4 bacaan bertajwid: idgham (2), ghunnah (1), qalqalah (1).

Idgham

Huruf mati dileburkan ke huruf berikutnya yang bertasydid.

  • أَن يَشَآءَNun mati bertemu ي
  • شَيۡـٔٗاۚ وَسِعَTanwin bertemu و

Ghunnah

Nun atau mim bertasydid didengungkan sekitar dua harakat.

  • أَتُحَٰٓجُّوٓنِّيNun bertasydid

Qalqalah

Huruf ق ط ب ج د yang mati, atau di akhir bacaan, dibaca memantul.

  • وَقَدۡد mati

Pasang Quranj di layar utama

Buka Al-Quran sekali ketuk, tampil penuh seperti aplikasi biasa.

  1. 1

    Ketuk di Safari, lalu Bagikan.

    Ketuk Bagikan di Safari.

  2. 2

    Gulir ke bawah, pilih Tambahkan ke Layar Utama.

  3. 3

    Ketuk Tambah. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Ketuk Bagikan di samping alamat situs.

  2. 2

    Pilih Tambahkan ke Layar Utama. Belum ada? Buka halaman ini di Safari.

  3. 3

    Ketuk Tambah. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Aplikasi ini belum bisa memasang situs. Ketuk di pojok layar.

  2. 2

    Pilih Buka di browser, atau salin tautannya dan tempel di Safari atau Chrome.

  3. 3

    Di sana, buka menu lalu Pasang aplikasi lagi.

  1. 1

    Ketuk menu browser.

  2. 2

    Pilih Pasang aplikasi atau Tambahkan ke layar utama.

  3. 3

    Ketuk Pasang. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Klik Bagikan di bagian atas jendela Safari, atau buka menu Arsip.

  2. 2

    Pilih Tambahkan ke Dock.

  3. 3

    Klik Tambah. Quranj terbuka dari Dock seperti aplikasi lain.

Ketuk Bagikan di sini