Surat Al-Anbiya' Ayat 9

QS. Al-Anbiya': 9 · Juz 17 · Makkiyah

ثُمَّ صَدَقۡنَٰهُمُ ٱلۡوَعۡدَ فَأَنجَيۡنَٰهُمۡ وَمَن نَّشَآءُ وَأَهۡلَكۡنَا ٱلۡمُسۡرِفِينَ

Ṡumma ṣadaqnāhumul-wa‘da fa anjaināhum wa man nasyā'u wa ahlaknal-musrifīn(a).

Kemudian, Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas.

Baca dalam Surat Al-Anbiya'

Tafsir QS. Al-Anbiya': 9

Penjelasan ayat 7–9 sekaligus.

" Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muham-mad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui. Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas." (Al-Anbiya`: 7-9).

(7-9) Ini merupakan sanggahan atas lontaran syubhat ka-langan orang-orang yang mendustakan Rasulullah. Mereka berko-mentar, "Kenapa dia (seorang rasul) bukan seorang malaikat yang tidak membutuhkan makanan dan minuman serta mondar-mandir berurusan di pasar-pasar! Kenapa dia tidak abadi!" Bila dia tidak demikian, berarti menunjukkan dia bukan seorang utusan Allah." Rangkaian syubhat ini, masih saja menancap di hati-hati kaum yang mendustakan para rasul. Mereka serupa dalam kekufuran, se-hingga pernyataan-pernyataan mereka pun senada. Berikutnya, Allah menangkis syubhat orang-orang yang mendustakan Rasulullah, (namun) mengakui penetapan eksistensi para rasul sebelum beliau. Kalau tidak ada nabi melainkan Nabi Ibrahim عليه السلام saja -yang telah diakui kenabiannya oleh seluruh golongan, yang mana kaum musyrikin melancarkan klaim berpegang teguh pada agama dan ajaran Ibrahim bahwa para rasul sebelum Muhammad semuanya dari kalangan manusia, yang makan makanan dan berjalan-jalan di pasar-pasar, dan muncul kejadian-kejadian manusiawi yang me-nimpa mereka seperti kematian dan kejadian lainnya, serta bahwa Allah telah mengutus mereka kepada kaum dan umat mereka; lalu sebagian beriman kepada mereka, dan ada pula yang mendustakan, dan bahwa Allah benar-benar akan merealisasikan bagi mereka sesuatu yang telah dijanjikan, berupa keselamatan dan kebahagia-an bagi mereka (para utusan Allah) dan para pengikut, dan akan membinasakan orang-orang yang melampaui batas, lagi mendusta-kan mereka-; maka mengapa banyak syubhat batil yang diarahkan kepada Muhammad dalam rangka mengingkari risalahnya, pada-hal realita-realita itu melekat pada para saudaranya dari kalangan para rasul yang diakui oleh para pendusta kenabian Muhammad? Ini adalah konsekuensi yang begitu jelas bagi mereka. Jika mereka mengakui kerasulan dari kalangan manusia, namun tidak mau menetapkan seorang rasul dari selain kalangan manusia, maka berarti syubhat mereka (tentang Nabi Muhammad) batil. Mereka telah mematahkannya sendiri dengan pengakuan mereka menge-nai rusaknya syubhat mereka dan adanya kontradiksi di tengah (pola pikir) mereka tentang itu. Andai langkah mereka ini diprediksi menuju pengingkaran kenabian dari kalangan manusia seutuhnya, tidak ada satu pun nabi, melainkan seorang malaikat yang abadi, tidak makan ma-kanan, maka sungguh Allah telah menyanggah syubhat ini dengan FirmanNya, ﴿ وَقَالُواْ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡهِ مَلَكٞۖ وَلَوۡ أَنزَلۡنَا مَلَكٗا لَّقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ ثُمَّ لَا يُنظَرُونَ 8 وَلَوۡ جَعَلۡنَٰهُ مَلَكٗا لَّجَعَلۡنَٰهُ رَجُلٗا وَلَلَبَسۡنَا عَلَيۡهِم مَّا يَلۡبِسُونَ 9 ﴾ "Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?' Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat tentu selesailah urusan itu. Kemudian mereka tidak di-beri tangguh (sekalipun). Dan kalau Kami jadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa laki-laki, dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), niscaya Kami pun akan menjadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu'." (Al-An'am: 8-9). Dan bahwa bangsa manusia tidak mempunyai kekuatan dalam menerima wahyu dari malaikat (secara langsung). ﴿ قُل لَّوۡ كَانَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَلَٰٓئِكَةٞ يَمۡشُونَ مُطۡمَئِنِّينَ لَنَزَّلۡنَا عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَلَكٗا رَّسُولٗا 95 ﴾ "Katakanlah, 'Kalau seandainya ada malaikat-malaikat yang ber-jalan-jalan sebagai penghuni bumi, niscaya Kami turunkan (dari langit kepada mereka) seorang malaikat menjadi rasul'." (Al-Isra`: 95). Jikalau timbul keraguan pada kalian, dan kalian tidak menge-tahui seluk-beluk para rasul yang sudah lewat, hendaknya mereka bertanya kepada orang-orang yang berilmu tentang kitab-kitab yang terdahulu. Misalnya, para ulama yang menguasai Taurat dan Injil. Mereka bakal memberitahukan tentang ilmu yang mereka miliki kepada kalian, dan bahwa seluruh rasul adalah manusia yang ber-asal dari jenis bangsa yang diberikan risalah (obyek dakwah). Ayat ini, meskipun sebabnya khusus mengenai pertanyaan tentang jati diri para rasul yang telah berlalu kepada ahli dzikir, yaitu ulama, tapi sesungguhnya konteksnya umum, mencakup setiap permasalahan agama, perkara yang inti atau cabangnya. Jika seseorang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, hendaknya dia menanyakannya kepada orang yang mengetahuinya. Dalam keterangan ini terkandung pelajaran, adanya perintah untuk belajar dan bertanya kepada ulama. Tidaklah diperintahkan untuk bertanya kepada mereka (ulama) melainkan karena mereka wajib mengajarkan ilmu dan menjawab permasalahan yang mereka ketahui. Di dalam pengkhususan melontarkan pertanyaan kepada ulama, terkandung larangan bertanya kepada orang yang sudah dikenal dengan kebodohannya dan tidak berilmu. Di dalamnya juga terkandung larangan bagi orang yang bodoh untuk mempo-sisikan diri untuk menjawab. Dalam ayat ini termuat sebuah dalil bahwa tidak ada nabi dari kalangan wanita, termasuk Maryam atau lainnya bukan nabi. Hal ini berdasarkan Firman Allah, ﴿ إِلَّا رِجَالٗا ﴾ "Melainkan beberapa orang laki-laki."

Tafsir As-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman), Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di. Terjemahan Indonesia.

Hukum Tajwid QS. Al-Anbiya': 9

Ayat ini memuat 4 bacaan bertajwid: ikhfa (1), idgham (1), ghunnah (1), qalqalah (1).

Ikhfa

Nun mati atau tanwin (juga mim mati sebelum ba) dibaca samar sambil berdengung.

  • فَأَنجَيۡنَٰهُمۡNun mati bertemu ج

Idgham

Huruf mati dileburkan ke huruf berikutnya yang bertasydid.

  • وَمَن نَّشَآءُNun mati bertemu ن

Ghunnah

Nun atau mim bertasydid didengungkan sekitar dua harakat.

  • ثُمَّMim bertasydid

Qalqalah

Huruf ق ط ب ج د yang mati, atau di akhir bacaan, dibaca memantul.

  • صَدَقۡنَٰهُمُق mati

Pasang Quranj di layar utama

Buka Al-Quran sekali ketuk, tampil penuh seperti aplikasi biasa.

  1. 1

    Ketuk di Safari, lalu Bagikan.

    Ketuk Bagikan di Safari.

  2. 2

    Gulir ke bawah, pilih Tambahkan ke Layar Utama.

  3. 3

    Ketuk Tambah. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Ketuk Bagikan di samping alamat situs.

  2. 2

    Pilih Tambahkan ke Layar Utama. Belum ada? Buka halaman ini di Safari.

  3. 3

    Ketuk Tambah. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Aplikasi ini belum bisa memasang situs. Ketuk di pojok layar.

  2. 2

    Pilih Buka di browser, atau salin tautannya dan tempel di Safari atau Chrome.

  3. 3

    Di sana, buka menu lalu Pasang aplikasi lagi.

  1. 1

    Ketuk menu browser.

  2. 2

    Pilih Pasang aplikasi atau Tambahkan ke layar utama.

  3. 3

    Ketuk Pasang. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Klik Bagikan di bagian atas jendela Safari, atau buka menu Arsip.

  2. 2

    Pilih Tambahkan ke Dock.

  3. 3

    Klik Tambah. Quranj terbuka dari Dock seperti aplikasi lain.

Ketuk Bagikan di sini