Surat Al-Furqan Ayat 33

QS. Al-Furqan: 33 · Juz 19 · Makkiyah

وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا

Wa lā ya'tūnaka bimaṡalin illā ji'nāka bil-ḥaqqi wa aḥsana tafsīrā(n).

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.

Baca dalam Surat Al-Furqan

Tafsir QS. Al-Furqan: 33

Penjelasan ayat 32–33 sekaligus.

"Berkatalah orang-orang kafir, 'Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami memperkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) suatu perumpamaan, melainkan pasti Kami mendatangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 32-33).

(32) "Ini sebagian dari sederet usulan-usulan kaum kafir yang dibisikkan oleh jiwa mereka, maka mereka berkata, ﴿ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ ﴾ "Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepada-nya sekali turun saja?" Maksudnya, sebagaimana kitab-kitab suci sebelumnya diturunkan. Apa salahnya kalau ia diturunkan seperti itu? Bahkan turunnya (secara bertahap) seperti itu lebih sempurna dan lebih baik. Maka dari itu Allah berfirman, ﴿ كَذَٰلِكَ ﴾ "Demikianlah," Kami menurunkannya secara berangsur-angsur, ﴿ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ ﴾ "supaya Kami memperkuat hatimu dengannya," sebab setiap kali bagian dari al-Qur`an turun kepadanya, maka dia makin bertambah tenang dan kokoh pendiriannya, terutama di saat adanya faktor-faktor penyebab kegelisahan. Karena sesung-guhnya turunnya al-Qur`an pada saat terjadinya moment (pen-ting) itu menjadi penawar yang sangat luar biasa dan menjadi peneguh hati yang sangat efektif daripada kalau ia telah ditu-runkan sebelumnya, kemudian mengingatnya ketika terjadi asbab nuzulnya. ﴿ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا ﴾ "Dan Kami membacakannya secara tartil," maksudnya, Kami menurunkannya kepadamu dengan pelan dan secara bertahap. Ini semua menunjukkan pada perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kitabNya, yaitu al-Qur`an dan terhadap RasulNya, yaitu Muhammad a, di mana Dia menjadikan penurunan kitabNya sesuai dengan kondisi Rasulullah dan kemaslahatan agama.

(33) Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴿ وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ ﴾ "Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) suatu perumpama-an," yang dengannya mereka menentang kebenaran dan dengannya mereka menolak kerasulanmu, ﴿ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا ﴾ "melainkan (pasti) Kami mendatangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya," maksudnya Kami turunkan kepadamu al-Qur`an yang mengandung kebenaran di dalam makna-makna-nya, kejelasan dan penjelasan yang sempurna pada lafazh-lafazh-nya. Maka makna-makna (yang dikandungnya) semuanya hak dan benar, tidak dicemari oleh satu kebatilan ataupun satu syubhat (kerancuan) dari sisi manapun; lafazh-lafazhnya dan batasan-ba-tasannya terhadap segala sesuatu merupakan lafazh-lafazh yang paling jelas dan paling baik penjelasannya, menjelaskan makna-maknanya dengan penjelasan yang sempurna. Di dalam ayat di atas terdapat satu dalil (bukti) bahwa se-pantasnya bagi orang yang membicarakan ilmu, apakah dia sebagai muhaddits, pengajar, maupun penceramah, sepantasnya dia mene-ladani Rabbnya di dalam mengatur kondisi RasulNya. Demikian pula seorang alim mengatur permasalahan masyarakat. Setiap kali ada kesempatan atau datang suatu musim, maka hendaknya dia membawakan ayat-ayat al-Qur`an, hadits-hadits Nabi dan nasihat-nasihat yang sesuai dengan musim tersebut. Ini juga mengandung bantahan terhadap orang-orang yang berlebihan, seperti kaum Jahmiyah dan semisal mereka yang ber-pendapat bahwa kebanyakan nash-nash al-Qur`an mengandung makna bukan literalnya (makna tersuratnya), dan ia mempunyai makna-makna selain dari maknanya yang dipahami secara lahir (literal). Jadi, berdasarkan pendapat mereka, al-Qur`an itu tidak lebih baik penjelasannya daripada yang lainnya. Dan yang lebih baik, menurut klaim mereka, adalah penafsiran mereka yang me-rubah makna-makna al-Qur`an dengan sejauh-jauhnya.

Tafsir As-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman), Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di. Terjemahan Indonesia.

Hukum Tajwid QS. Al-Furqan: 33

Ayat ini tidak memuat hukum ikhfa, idgham, iqlab, ghunnah, maupun qalqalah; hurufnya dibaca jelas (izhar) sesuai makhrajnya.

Pasang Quranj di layar utama

Buka Al-Quran sekali ketuk, tampil penuh seperti aplikasi biasa.

  1. 1

    Ketuk di Safari, lalu Bagikan.

    Ketuk Bagikan di Safari.

  2. 2

    Gulir ke bawah, pilih Tambahkan ke Layar Utama.

  3. 3

    Ketuk Tambah. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Ketuk Bagikan di samping alamat situs.

  2. 2

    Pilih Tambahkan ke Layar Utama. Belum ada? Buka halaman ini di Safari.

  3. 3

    Ketuk Tambah. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Aplikasi ini belum bisa memasang situs. Ketuk di pojok layar.

  2. 2

    Pilih Buka di browser, atau salin tautannya dan tempel di Safari atau Chrome.

  3. 3

    Di sana, buka menu lalu Pasang aplikasi lagi.

  1. 1

    Ketuk menu browser.

  2. 2

    Pilih Pasang aplikasi atau Tambahkan ke layar utama.

  3. 3

    Ketuk Pasang. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Klik Bagikan di bagian atas jendela Safari, atau buka menu Arsip.

  2. 2

    Pilih Tambahkan ke Dock.

  3. 3

    Klik Tambah. Quranj terbuka dari Dock seperti aplikasi lain.

Ketuk Bagikan di sini