Surat Asy-Syura Ayat 22

QS. Asy-Syura: 22 · Juz 25 · Makkiyah

تَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ مُشۡفِقِينَ مِمَّا كَسَبُواْ وَهُوَ وَاقِعُۢ بِهِمۡۗ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فِي رَوۡضَاتِ ٱلۡجَنَّاتِۖ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمۡۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ

Taraẓ-ẓālimīna musyfiqīna mimmā kasabū wa huwa wāqi‘um bihim, wal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti fī rauḍātil-jannāt(i), lahum mā yasyā'ūna ‘inda rabbihim, żālika huwal-faḍlul-kabīr(u).

Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.

Baca dalam Surat Asy-Syura

Tafsir QS. Asy-Syura: 22

Penjelasan ayat 21–23 sekaligus.

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak di-izinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. Kamu lihat orang-orang yang zhalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang shalih di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. Itulah yang disampaikan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Katakanlah, 'Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.' Dan siapa yang mengerjakan ke-baikan, akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikan-nya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Men-syukuri." (Asy-Syura: 21-23).

(21) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwa kaum musyrikin telah mengambil sekutu-sekutu (sembahan-sembahan) yang mereka cintai dan mereka percayai, mereka dan para sekutu itu sama dalam kekafiran dan perbuatan-perbuatan kufur. (Mereka) adalah setan-setan dari bangsa manusia yang mengajak kepada kekafiran ﴿ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ ﴾ "yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah," berupa syirik, bid'ah-bid'ah, mengharam-kan apa-apa yang dihalalkan oleh Allah dan menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah serta hal-hal yang serupa dengannya yang menjadi tuntutan hawa nafsu mereka. Padahal Agama itu hanya apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah سبحانه وتعالى agar dipatuhi oleh manusia dan mereka mendekatkan diri kepada-Nya dengannya. Hukum asalnya adalah dilarang bagi setiap orang membuat suatu aturan apa pun (syariat) yang tidak bersumber dari Allah dan dari RasulNya. Lalu bagaimana dengan orang-orang fasik yang bersekutu dengan bapak-bapak mereka, sedangkan mereka menganut kekafiran?! ﴿ وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۗ ﴾ "Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan, tentulah mereka telah dibinasakan." Artinya, kalau saja bukan karena ketetapan ajal yang telah ditentukan Allah sebagai pemisah antara berbagai golongan itu, dan bahwasanya Dia akan menangguhkan mereka kepadanya, tentu telah diputuskan di an-tara mereka pada saat itu juga dengan memberikan kebahagiaan kepada orang yang berpegang kepada kebenaran dan membinasa-kan orang yang berada pada kesesatan, karena penyebab untuk di-binasakan sudah ada. Namun, di hadapan mereka dan di hadapan setiap orang zhalim sudah ada azab pedih yang telah menanti di akhirat.

(22) Dan pada hari itu nanti, ﴿ تَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ ﴾ "kamu lihat orang-orang yang zhalim" terhadap diri mereka sendiri karena telah mela-kukan kekafiran dan berbagai maksiat ﴿ مُشۡفِقِينَ ﴾ "sangat ketakutan," yakni, sangat takut dan gemetar, ﴿ مِمَّا كَسَبُواْ ﴾ "karena apa-apa yang telah mereka kerjakan." (Mereka takut) kalau mereka akan disiksa karenanya. Oleh karena orang yang takut itu kadang-kadang apa yang dikhawatirkannya terjadi dan kadang-kadang tidak terjadi, maka di sini Allah menginformasikan bahwa pasti ﴿ وَاقِعُۢ بِهِمۡۗ ﴾ "me-nimpa mereka," yakni, azab yang mereka takuti itu, sebab mereka telah melakukan sebab yang sempurna yang memastikan siksaan tanpa ada penghalangnya lagi dalam bentuk taubat ataupun lain-nya, dan mereka telah sampai pada suatu tempat yang di situ me-reka sudah kehabisan waktu penangguhan. ﴿ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴾ "Dan orang-orang yang beriman," dengan hati mereka kepada Allah, kitab-kitabNya dan para rasulNya, serta kepada ajaran yang mereka bawa, ﴿ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴾ "dan beramal shalih," mencakup setiap amal shalih dari amalan-amalan kalbu (batin) dan amalan-amalan lahiriyah dari yang wajib-wajib dan yang sunnah-sunnah, mereka berada ﴿ فِي رَوۡضَاتِ ٱلۡجَنَّاتِۖ ﴾ "di dalam taman-taman surga." Maksudnya, taman-taman yang bersambung dengan surga. Yang disambungkan itu sangat tergantung kepada yang disambungkan kepadanya. Maka Anda jangan menanyakan tentang keindahan taman-taman yang sangat menarik itu, sungai-sungai yang mengalir yang ada padanya, ladang-ladang yang be-rumput, pemandangan-pemandangan yang sangat indah, pohon-pohon yang berbuah, burung-burung yang bersiul, suara-suara menarik yang sangat merdu, pertemuan dengan setiap orang yang dicintai, bergaul dan berkumpul bersama-sama dengan sepuas-puasnya. Taman-taman yang dari waktu ke waktu hanya semakin indah dan megah, dan para penghuninya semakin merindukan kelezatannya dan semakin menyukainya. ﴿ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ ﴾ "Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki" di dalamnya, maksudnya, di dalam surga itu. Apa pun yang mereka inginkan pasti ada, dan apa pun yang mereka cari, pasti diperoleh, dari kenikmatan dan keindahan apa saja yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Itulah ﴿ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ﴾ "karunia yang besar." Apa-kah ada keuntungan yang lebih besar daripada keuntungan meraih keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan menikmati kedekatan denganNya di negeri kemuliaanNya?

(23) ﴿ ذَٰلِكَ ٱلَّذِي يُبَشِّرُ ٱللَّهُ عِبَادَهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِۗ ﴾ "Itulah yang disam-paikan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan amal shalih." Ini adalah berita gembira yang sangat agung yang merupakan berita gembira paling besar secara total yang disam-paikan oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang melalui manusia yang paling utama untuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Maka ia adalah tujuan yang paling tinggi, dan sarana yang bisa mengantarkan kepadanya merupakan sarana yang paling utama. ﴿ قُل لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ ﴾ "Katakanlah (hai Muhammad), 'Aku tidak meminta kepadamu atasnya'," maksudnya, atas penyampaian al-Qur`an yang aku lakukan kepada kalian dan atas seruanku kepada hukum-hukumnya, ﴿ أَجۡرًا ﴾ "suatu upah pun." Jadi, aku tidak ingin mengambil harta kalian, tidak pula ingin menjadi penguasa terhadap kalian atau tujuan-tujuan lainnya, ﴿ إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ ﴾ "kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." Bisa jadi makna lainnya adalah: Aku tidak meminta kepada kalian atas seruan ini suatu upah pun selain satu saja, ia adalah milik kalian dan manfaatnya kembali kepada kalian, yaitu kalian menyayangi dan mencintaiku dalam kekerabatan, yakni, karena hubungan kerabat. Maka ini berarti kasih sayang lebih dari kasih sayang karena iman. Sebab kasih sayang karena iman kepada Rasul dan mengutamakan kecintaan kepadanya atas seluruh yang dicintai sesudah kecintaan kepada Allah itu fardhu atas setiap Muslim. Mereka diminta lebih dari itu, yaitu mencintainya karena hubungan kerabat. Sebab, Rasulullah a telah melakukan dakwah-nya kepada manusia yang paling dekat kepadanya, hingga dikata-kan bahwa tidak ada seorang pun dari suku Quraisy melainkan Rasulullah a memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Bisa juga maksudnya adalah, kecuali mencintai Allah dengan kecintaan yang tulus, yaitu kecintaan yang disertai dengan taqarrub kepada Allah dan bertawassul dengan ketaatan kepadaNya yang membuktikan kebenaran dan ketulusan cintanya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴿ إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ ﴾ "Kecuali kasih sayang dalam al-Qurba" yakni, taqarrub kepada Allah. Berdasarkan dua makna ini, maka pengecualian tersebut membuktikan bahwa Rasulullah a sama sekali tidak meminta upah apa pun atas seruannya, kecuali sesuatu yang manfaatnya kembali kepada mereka sendiri. Maka ini sama sekali bukan upah, bahkan itu adalah upah dari beliau untuk mereka, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴿ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴾ "Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). Dan seperti ucapan mereka: Si fulan itu tidak punya dosa padamu selain dia adalah seorang yang berbuat baik kepadamu. ﴿ وَمَن يَقۡتَرِفۡ حَسَنَةٗ ﴾ "Dan siapa yang mengerjakan kebaikan" berupa Shalat, Puasa, Haji atau perbuatan baik kepada manusia, ﴿ نَّزِدۡ لَهُۥ فِيهَا حُسۡنًاۚ ﴾ "akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu" yaitu berupa: Allah melapangkan dadanya, memudahkan urusan-nya dan ia menjadi sebab untuk memperoleh taufik untuk menger-jakan amal baik yang lain, yang dengannya amal seorang Mukmin bertambah dan derajatnya naik di sisi Allah dan di kalangan makh-lukNya, dan ia juga memperoleh pahala di dunia dan di akhirat. ﴿ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ شَكُورٌ ﴾ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri," Dia mengampuni dosa-dosa yang sangat besar, seka-lipun seperti apa pun besarnya dosa itu saat dilakukan taubat da-rinya, dan Dia mensyukuri amal yang sedikit (kecil) dengan pahala

Tafsir As-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman), Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di. Terjemahan Indonesia.

Hukum Tajwid QS. Asy-Syura: 22

Ayat ini memuat 5 bacaan bertajwid: ikhfa (1), idgham (1), iqlab (1), ghunnah (2).

Ikhfa

Nun mati atau tanwin (juga mim mati sebelum ba) dibaca samar sambil berdengung.

  • عِندَNun mati bertemu د

Idgham

Huruf mati dileburkan ke huruf berikutnya yang bertasydid.

  • لَهُم مَّاMim mati bertemu م

Iqlab

Nun mati atau tanwin sebelum ba berubah bunyi menjadi mim, berdengung.

  • وَاقِعُۢ بِهِمۡۗTanwin bertemu ب

Ghunnah

Nun atau mim bertasydid didengungkan sekitar dua harakat.

  • مِمَّاMim bertasydid
  • ٱلۡجَنَّاتِۖNun bertasydid

Pasang Quranj di layar utama

Buka Al-Quran sekali ketuk, tampil penuh seperti aplikasi biasa.

  1. 1

    Ketuk di Safari, lalu Bagikan.

    Ketuk Bagikan di Safari.

  2. 2

    Gulir ke bawah, pilih Tambahkan ke Layar Utama.

  3. 3

    Ketuk Tambah. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Ketuk Bagikan di samping alamat situs.

  2. 2

    Pilih Tambahkan ke Layar Utama. Belum ada? Buka halaman ini di Safari.

  3. 3

    Ketuk Tambah. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Aplikasi ini belum bisa memasang situs. Ketuk di pojok layar.

  2. 2

    Pilih Buka di browser, atau salin tautannya dan tempel di Safari atau Chrome.

  3. 3

    Di sana, buka menu lalu Pasang aplikasi lagi.

  1. 1

    Ketuk menu browser.

  2. 2

    Pilih Pasang aplikasi atau Tambahkan ke layar utama.

  3. 3

    Ketuk Pasang. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Klik Bagikan di bagian atas jendela Safari, atau buka menu Arsip.

  2. 2

    Pilih Tambahkan ke Dock.

  3. 3

    Klik Tambah. Quranj terbuka dari Dock seperti aplikasi lain.

Ketuk Bagikan di sini