Surat At-Taubah Ayat 117

QS. At-Taubah: 117 · Juz 11 · Madaniyah

لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِيِّ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ ٱلۡعُسۡرَةِ مِنۢ بَعۡدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٖ مِّنۡهُمۡ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّهُۥ بِهِمۡ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ

Laqat tāballāhu ‘alan-nabiyyi wal-muhājirīna wal-anṣāril-lażīnattaba‘ūhu fī sā‘atil-‘usrati mim ba‘di mā kāda yazīgu qulūbu farīqim minhum ṡumma tāba ‘alaihim, innahū bihim ra'ūfur raḥīm(un).

Sesungguhnya Allah telah menerima tobat nabi, orang-orang muhajirin, dan orang-orang ansar yang mengikuti nabi dalam masa kesulitan setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,

Baca dalam Surat At-Taubah

Tafsir QS. At-Taubah: 117

Penjelasan ayat 117–118 sekaligus.

"Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguh-nya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, pa-dahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tem-pat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja, kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha penyayang." (At-Taubah: 117-118).

(117) Allah تعالى mengabarkan bahwa termasuk kebaikan dan kasih sayangNya, ﴿ تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِيِّ ﴾ "Allah telah menerima taubat Nabi", Muhammad ﴿ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ ﴾ "dan orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar." Dia mengampuni kesalahan mereka, memu-dahkan kebaikan bagi mereka, dan mengangkat mereka ke derajat tertinggi, hal itu karena mereka melakukan amal yang sangat sulit dan sangat berat, oleh karena itu Dia berfirman, ﴿ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ ٱلۡعُسۡرَةِ ﴾ "Yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan", yakni, berangkat bersama beliau untuk memerangi musuh di perang Tabuk, di mana ia terjadi pada saat yang sangat panas, bekal dan kendaraan sedikit, dan banyaknya jumlah musuh, hal mana itu mendorong orang untuk enggan berangkat perang, namun kemudian mereka memo-hon pertolongan kepada Allah تعالى dan tetap melakukan jihad terse-but, ﴿ مِنۢ بَعۡدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٖ مِّنۡهُمۡ ﴾ "setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling", yakni hati mereka berbalik dan cenderung kepada ketenangan dan kenyamanan, akan tetapi Allah meneguhkan, men-dukung, dan menguatkan mereka. Berpalingnya hati adalah penyelewengannya dari jalan yang lurus, jika penyelewengannya pada dasar agama, maka ia adalah kekufuran, jika pada syariatnya, maka hal itu menurut syariat di mana dia menyimpang darinya. Bisa dalam bentuk dia lalai dalam menunaikannya, atau menunaikannya secara tidak syar'i. Firman-Nya, ﴿ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴾ "Kemudian Allah menerima taubat mereka itu." ﴿ إِنَّهُۥ بِهِمۡ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴾ Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penya-yang kepada mereka." Di antara kasih sayangNya adalah memberi mereka nikmat taubat dan menerimanya dari mereka serta mene-guhkan mereka di atasnya.

(118) ﴿ و َ ﴾ "Dan" begitu pula Allah telah menerima taubat ﴿ ع َ ل َ ى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُواْ ﴾ "tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka", mereka tidak berangkat berperang bersama kaum Musli-min di perang itu. Mereka adalah Ka'ab bin Malik dan kedua rekan-nya. Kisah mereka masyhur tercantum di kitab-kitab Shahih dan Sunan. ﴿ حَتَّىٰٓ إِذَا ﴾ "Hingga apabila", mereka sangat bersedih, ﴿ ضَاقَتۡ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ﴾ "bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, ﴿ وَضَاقَتۡ عَلَيۡهِمۡ أَنفُسُهُمۡ ﴾ "dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka", yang merupakan sesuatu yang paling mereka cintai dari segala apa pun, bumi yang luas dan sesuatu yang dicintai se-rasa sempit padahal biasanya ia tidak demikian, hal itu tidak lain kecuali karena perkara yang berat yang telah sampai pada puncak beratnya dan sulitnya, sehingga ia sulit untuk diungkapkan, hal itu karena mereka mendahulukan ridha Allah dan ridha RasulNya daripada segala sesuatu. ﴿ وَظَنُّوٓاْ أَن لَّا مَلۡجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيۡهِ ﴾ "Mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja." Yakni, mereka yakin dan mengetahui keadaan mereka bahwa tidak ada keselamatan dan perlindungan dari kesulitan kecuali hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Terputuslah ketergan-tungan mereka dengan makhluk, mereka bergantung hanya kepada Allah, Rabb mereka, dan kembali kepadaNya. Mereka mengalami kesulitan ini selama lima puluh malam. ﴿ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡ ﴾ "Kemudian Allah menerima taubat mereka." Yakni mengizinkan dan membimbing mereka untuk taubat kepadaNya ﴿ لِيَتُوبُوٓاْۚ ﴾ "agar mereka tetap dalam taubatnya." Yakni, agar taubat ter-sebut dilakukan oleh mereka, sehinga kemudia Dia akan menerima taubat mereka. ﴿ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ﴾ "Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat." Yakni banyak memaafkan, mengampuni, dan menerima taubat dan dari kesalahan-kesalahan dan berbagai ke-kurangan. ﴿ ٱلرَّحِيمُ ﴾ "Lagi Maha penyayang." SifatNya adalah rahmat yang agung yang selalu turun kepada hamba setiap saat dan waktu, di segala kesempatan yang menyebabkan perkara agama dan dunia mereka berdiri tegak dengannya. Dalam ayat-ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa penerimaan taubat oleh Allah kepada seorang hamba adalah tujuan dan sasaran paling mulia dan paling tinggi, karena Allah menjadi-kannya sebagai akhir bagi hamba-hambaNya yang khusus, dan memberi mereka nikmat dengannya ketika mereka melakukan amalan-amalan yang dicintai dan diridhaiNya. Di antaranya: Kasih sayang Allah kepada mereka, serta pe-neguhan iman mereka pada waktu kesulitan dan musibah yang mencemaskan. Di antaranya: Bahwa ibadah yang berat bagi jiwa memiliki keistimewaan dan keutamaan di atas selainnya. Semakin berat ke-sulitannya maka akan semakin besar pahalanya. Di antaranya: Bahwa penerimaan taubat oleh Allah kepada hambaNya adalah berdasarkan penyesalannya yang mendalam. Sedangkan orang yang tidak peduli dengan dosa dan tidak merasa bersalah jika melakukannya, maka taubatnya pasti gagal, meski dia menyangkanya diterima. Di antaranya: Bahwa tanda kebaikan dan lenyapnya kesulitan adalah jika hati seorang hamba hanya bergantung kepada Allah تعالى secara sempurna dan terputus dari (mengharap kepada) makhluk. Di antaranya: Di antara kasih sayang Allah kepada tiga orang sahabat tersebut adalah Allah menyifati mereka dengan sifat yang bukan aib bagi mereka, Dia berfirman, ﴿ خُلِّفُواْ ﴾ "Mereka ditangguh-kan." Sebagai isyarat bahwa orang-orang Mukmin meninggalkan mereka atau ditunda dari orang yang taubatnya dipastikan ditolak atau diterima, dan bahwa mereka tidak berangkat bukan karena tidak menginginkan kebaikan. Oleh karena itu Allah tidak berfir-man, تَخَلَّفُوْا (tidak berangkat). Di antaranya: Allah تعالى memberi nikmat kejujuran kepada me-reka. Oleh karena itu Allah memerintahkan agar mereka diteladani. Dia berfirman,

Tafsir As-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman), Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di. Terjemahan Indonesia.

Hadits terkait QS. At-Taubah: 117

Hukum Tajwid QS. At-Taubah: 117

Ayat ini memuat 8 bacaan bertajwid: ikhfa (1), idgham (3), iqlab (1), ghunnah (3).

Ikhfa

Nun mati atau tanwin (juga mim mati sebelum ba) dibaca samar sambil berdengung.

  • وَٱلۡأَنصَارِNun mati bertemu ص

Idgham

Huruf mati dileburkan ke huruf berikutnya yang bertasydid.

  • لَّقَدد mati
  • فَرِيقٖ مِّنۡهُمۡTanwin bertemu م
  • رَءُوفٞ رَّحِيمٞTanwin bertemu ر

Iqlab

Nun mati atau tanwin sebelum ba berubah bunyi menjadi mim, berdengung.

  • مِنۢ بَعۡدِNun mati bertemu ب

Ghunnah

Nun atau mim bertasydid didengungkan sekitar dua harakat.

  • ٱلنَّبِيِّNun bertasydid
  • ثُمَّMim bertasydid
  • إِنَّهُۥNun bertasydid

Pasang Quranj di layar utama

Buka Al-Quran sekali ketuk, tampil penuh seperti aplikasi biasa.

  1. 1

    Ketuk di Safari, lalu Bagikan.

    Ketuk Bagikan di Safari.

  2. 2

    Gulir ke bawah, pilih Tambahkan ke Layar Utama.

  3. 3

    Ketuk Tambah. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Ketuk Bagikan di samping alamat situs.

  2. 2

    Pilih Tambahkan ke Layar Utama. Belum ada? Buka halaman ini di Safari.

  3. 3

    Ketuk Tambah. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Aplikasi ini belum bisa memasang situs. Ketuk di pojok layar.

  2. 2

    Pilih Buka di browser, atau salin tautannya dan tempel di Safari atau Chrome.

  3. 3

    Di sana, buka menu lalu Pasang aplikasi lagi.

  1. 1

    Ketuk menu browser.

  2. 2

    Pilih Pasang aplikasi atau Tambahkan ke layar utama.

  3. 3

    Ketuk Pasang. Ikon Quranj muncul di layar utama.

  1. 1

    Klik Bagikan di bagian atas jendela Safari, atau buka menu Arsip.

  2. 2

    Pilih Tambahkan ke Dock.

  3. 3

    Klik Tambah. Quranj terbuka dari Dock seperti aplikasi lain.

Ketuk Bagikan di sini