Surat Fussilat Ayat 33

QS. Fussilat: 33 · Juz 24 · Makkiyah

وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

Wa man aḥsanu qaulam mimman da‘ā ilallāhi wa ‘amila ṣāliḥaw wa qāla innanī minal-muslimīn(a).

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"

Baca dalam Surat Fussilat

Tafsir QS. Fussilat: 33

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri'." (Fushshilat: 33).

(33) Ini adalah satu bentuk pertanyaan yang bermakna menafikan sesuatu yang sudah pasti tidak ada. Artinya, tidak se-orang pun, ﴿ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا ﴾ "yang lebih baik perkataannya," ucapan, jalan hidup dan kondisinya, ﴿ مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ ﴾ "daripada orang yang menyeru kepada Allah," dengan memberikan pengajaran kepada orang-orang yang bodoh, memberikan nasihat kepada orang-orang yang lalai dan berpaling serta berdialog dengan orang-orang yang berpaham menyimpang agar mereka hanya beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى dengan berbagai bentuk ibadah, menganjurkannya dan memperindahnya semampunya, dan agar mereka berhenti melakukan apa-apa yang Allah larang serta memperburuknya dengan segala cara yang bisa membuat mereka meninggalkannya, terutama adalah mengajak kepada prinsip Dinul Islam, memperindahnya dan mendebat musuh-musuhnya dengan metode yang terbaik, dan melarang lawan prinsip tersebut, yaitu kekafiran dan syirik, serta mengajak kepada kebaikan dan mencegah yang mungkar. Termasuk dakwah kepada Allah adalah mengajak mereka mencintaiNya dengan cara menjelaskan rincian nikmat-nikmatNya, kemahaluasan karuniaNya dan kemahasempurnaan rahmatNya serta menjelaskan sifat-sifat kesempurnaan dan kebesaranNya. Termasuk berdakwah kepada Allah adalah memberikan motivasi untuk mencari ilmu dan pedoman hidup dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya dan menghimbaukannya dengan segala metode yang bisa mengantarkan kepada maksud. Dan termasuk dakwah juga adalah mengajak berakhlak mulia dan berbuat ihsan kepada segenap makhluk, membalas orang yang berbuat buruk dengan berbuat baik kepadanya, mengajak menjalin silaturahim dan berbakti kepada kedua ibu-bapak. Termasuk juga memberikan nasihat kepada masyarakat umum pada momen-momen tertentu, pada kesempatan-kesempatan temporal dan pada momen terjadi-nya bencana sesuai dengan kondisi, dan lain-lainnya yang sangat banyak sekali, yang tidak mungkin disebutkan satu persatu yang mencakup dakwah kepada kebaikan dan larangan dari segala keburukan. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴿ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴾ "Dan mengerjakan amal yang shalih," maksudnya, di samping dakwahnya mengajak manusia kepada Allah, ia sendiri segera mematuhi perintah Allah dengan beramal shalih yang membuat Rabbnya ridha, ﴿ وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴾ "dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri'," maksudnya, tunduk kepada perintahNya dan me-nempuh jalanNya. Derajat sempurna seperti ini adalah milik ash-shiddiqin, yaitu orang-orang yang berbuat untuk menyempurnakan diri mereka sendiri dan menyempurnakan orang-orang lain dan mereka memperoleh warisan sempurna dari para rasul. Dan sebaliknya orang yang paling buruk perkataannya ada-lah orang yang tergolong penyeru kepada kesesatan lagi menelu-suri jalan-jalannya. Di antara dua predikat (kedudukan) yang salah satunya menjulang tinggi tak terjangkau, sedangkan yang lain turun ke bawah hingga pada tingkat paling rendah, terdapat tingkatan-tingkan yang hanya diketahui oleh Allah, semuanya ada tersebar pada manusia, dan masing-masing memiliki tingkatan-tingkatan tersendiri dari apa yang dikerjakannya. Dan sekali-kali Allah tidak pernah lalai terhadap apa yang mereka kerjakan.

Tafsir As-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman), Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di. Terjemahan Indonesia.

Hukum Tajwid QS. Fussilat: 33

Ayat ini memuat 5 bacaan bertajwid: ikhfa (1), idgham (2), ghunnah (2).

Ikhfa

Nun mati atau tanwin (juga mim mati sebelum ba) dibaca samar sambil berdengung.

  • مِّمَّن دَعَآNun mati bertemu د

Idgham

Huruf mati dileburkan ke huruf berikutnya yang bertasydid.

  • قَوۡلٗا مِّمَّنTanwin bertemu م
  • صَٰلِحٗا وَقَالَTanwin bertemu و

Ghunnah

Nun atau mim bertasydid didengungkan sekitar dua harakat.

  • مِّمَّنMim bertasydid
  • إِنَّنِيNun bertasydid