Surat 'Abasa Ayat 2
QS. 'Abasa: 2 · Juz 30 · Makkiyah
أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ
An jā'ahul-a‘mā.
karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.
Baca dalam Surat 'AbasaQS. 'Abasa: 2 · Juz 30 · Makkiyah
أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ
An jā'ahul-a‘mā.
karena seorang tunanetra (Abdullah bin Ummi Maktum) telah datang kepadanya.
Baca dalam Surat 'AbasaPada permulaan Surah 'Abasa ini, Allah menegur Nabi Muhammad yang bermuka masam dan berpaling dari 'Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, ketika sahabat ini menyela pembicaraan Nabi dengan beberapa tokoh Quraisy. Saat itu 'Abdullah bin Ummi Maktum bertanya dan meminta Nabi saw untuk membacakan dan mengajarkan beberapa wahyu yang telah diterima Nabi. Permintaan itu diulanginya beberapa kali karena ia tidak tahu Nabi sedang sibuk menghadapi beberapa pembesar Quraisy.
Sebetulnya Nabi saw sesuai dengan skala prioritas sedang menghadapi tokoh-tokoh penting yang diharapkan dapat masuk Islam karena hal ini akan mempunyai pengaruh besar pada perkembangan dakwah selanjutnya. Maka adalah manusiawi jika Nabi saw tidak memperhatikan pertanyaan 'Abdullah bin Ummi Maktum, apalagi telah ada porsi waktu yang telah disediakan untuk pembicaraan Nabi dengan para sahabat.
Tetapi Nabi Muhammad sebagai manusia terbaik dan contoh teladan utama bagi setiap orang mukmin (uswah hasanah), maka Nabi tidak boleh membeda-bedakan derajat manusia. Dalam menetapkan skala prioritas juga harus lebih memberi perhatian kepada orang kecil apalagi memiliki kelemahan seperti 'Abdullah bin Ummi Maktum yang buta dan tidak dapat melihat. Maka seharusnya Nabi lebih mendahulukan pembicaraan dengan 'Abdullah bin Ummi Maktum daripada dengan para tokoh Quraisy.
Dalam peristiwa ini Nabi saw tidak mengatakan sepatah katapun kepada 'Abdullah bin Ummi Maktum yang menyebabkan hatinya terluka, tetapi Allah melihat raut muka Nabi Muhammad saw yang masam itu dan tidak mengindahakan Ummi Maktum yang menyebabkan dia tersinggung.
Hikmah adanya teguran Allah kepada Nabi Muhammad juga memberi bukti bahwa Al-Qur'an bukanlah karangan Nabi, tetapi betul-betul firman Allah. Teguran yang sangat keras ini tidak mungkin dikarang sendiri oleh Nabi.
'Abdullah bin Ummi Maktum adalah seorang yang bersih dan cerdas. Apabila mendengarkan hikmah, ia dapat memeliharanya dan membersihkan diri dari kebusukan kemusyrikan. Adapun para pembesar Quraisy itu sebagian besar adalah orang-orang yang kaya dan angkuh sehingga tidak sepatutnya Nabi terlalu serius menghadapi mereka untuk diislamkan. Tugas Nabi hanya sekadar menyampaikan risalah dan persoalan hidayah semata-mata berada di bawah kekuasaan Allah. Kekuatan manusia itu harus dipandang dari segi kecerdasan pikiran dan keteguhan hatinya serta kesediaan untuk menerima dan melaksanakan kebenaran. Adapun harta, kedudukan, dan pengaruh kepemimpinan bersifat tidak tetap, suatu ketika ada dan pada saat yang lain hilang sehingga tidak bisa diandalkan.
Nabi sendiri setelah ayat ini turun selalu menghormati 'Abdullah bin Ummi Maktum dan sering memuliakannya melalui sabda beliau, "Selamat datang kepada orang yang menyebabkan aku ditegur oleh Allah. Apakah engkau mempunyai keperluan?"
Penjelasan ayat 1–10 sekaligus.
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) men-dapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepa-danya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya." ('Abasa: 1-10).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Sebab turunnya ayat-ayat mulia ini adalah seorang Mukmin buta datang seraya bertanya kepada Nabi a dan belajar dari beliau, kemudian ada orang kaya juga datang. Nabi a amat ingin menunjukkan manusia, hanya saja beliau lebih condong pada orang kaya dan berpaling dari si buta lagi miskin demi mengharap agar si kaya mendapatkan petunjuk dan demi mengharap agar si kaya menyucikan hatinya. Lalu Allah سبحانه وتعالى menegurnya dengan teguran lembut ini seraya berfirman;
(1-10) ﴿ عَبَسَ ﴾ "Dia (Muhammad) bermuka masam" di wajah beliau, ﴿ وَتَوَلَّىٰٓ ﴾ "dan berpaling" dengan raganya karena orang buta mendatanginya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan manfaat me-nyambutnya seraya berfirman, ﴿ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ ﴾ "Tahukah kamu barang-kali ia," yakni orang buta tersebut, ﴿ يَزَّكَّىٰٓ ﴾ "ingin membersihkan dirinya (dari dosa)," yaitu membersihkan diri dari akhlak tercela dan ingin berakhlak terpuji, ﴿ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ ﴾ "atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya," yakni, mendapatkan pengajaran tentang sesuatu sehingga ia mendapat-kan manfaat dari pelajaran itu. Ini adalah manfaat besar dan itulah maksud diutusnya para rasul, maksud dari petuah orang yang memberi nasihat dan maksud dari peringatan orang yang memberi peringatan. Sambutanmu pada orang yang datang sendiri seraya memerlukanmu itu lebih layak dan wajib, sedangkan berpalingnya engkau pada orang kaya yang tidak memerlukanmu yang tidak mau bertanya dan meminta fatwa karena tidak memiliki keinginan pada kebaikan dan engkau tinggalkan orang yang lebih utama itu tidak layak bagimu. Tugasmu hanyalah memberi pengajaran, bila pun ia tidak mau mengambil pelajaran dengan membersihkan diri, engkau tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Hal ini menunjukkan pada kaidah masyhur; sesuatu yang telah diketahui tidak ditinggalkan untuk sesuatu yang belum jelas, tidak juga maslahat yang nyata ditinggalkan untuk maslahat yang belum jelas. Dan menyambut murid yang memerlukan dan penuh kemauan lebih layak dari yang lainnya.
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini memuat 1 bacaan bertajwid: ikhfa (1).
Nun mati atau tanwin (juga mim mati sebelum ba) dibaca samar sambil berdengung.