Surat 'Abasa Ayat 29
QS. 'Abasa: 29 · Juz 30 · Makkiyah
وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا
Wa zaitūnaw wa nakhlā(n).
zaitun, pohon kurma,
Baca dalam Surat 'AbasaQS. 'Abasa: 29 · Juz 30 · Makkiyah
وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا
Wa zaitūnaw wa nakhlā(n).
zaitun, pohon kurma,
Baca dalam Surat 'AbasaDalam ayat ini dan selanjutnya Allah menyebutkan beberapa macam tumbuh-tumbuhan: pertama, Allah menumbuhkan di bumi biji-bijian seperti gandum, padi, dan lain-lainnya yang menjadi makanan pokok.
Kedua dan ketiga, Allah menumbuhkan pula buah anggur dan bermacam sayuran yang dapat dimakan secara langsung.
Keempat dan kelima, buah zaitun dan pohon kurma.
Keenam, kebun-kebun yang besar, tinggi, dan lebat buahnya. Tidak hanya buahnya yang dapat dimanfaatkan, tetapi pohonnya pun dapat dijadikan bahan bangunan dan alat-alat perumahan.
Ketujuh, bermacam-macam buah-buahan yang lain, seperti buah pir, apel, mangga, dan sebagainya.
Kedelapan, berbagai macam rumput-rumputan.
Air yang turun dari langit dan perannya dalam "menghidupkan tanah yang mati" secara jelas diuraikan pada Surah al-Furqan/25: 48-49. Apa kandungan dari air hujan sehingga dapat digunakan untuk tumbuhnya tumbuhan ada pada Surah Qaf/50: 9.
Sedangkan uraian bagaimana bumi "terbelah", di samping ayat di atas, juga terdapat pada Surah Fussilat/41: 39, sebagaimana pada penggalannya: "Dan di antara ayat-ayat-Nya adalah engkau melihat bumi kering tandus maka apabila telah Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan mengembang."
Ayat tersebut menerangkan apa yang akan terjadi pada tanah yang kering apabila butiran hujan jatuh di atasnya. Ayat tersebut juga menjelaskan adanya tiga tahap bagaimana perkembangan tumbuhan sampai dengan menghasilkan buah.
Tingkat-tingkat perkembangan tumbuhan yang dijelaskan oleh ayat di atas adalah demikian:
Pertama: Bergeraknya tanah. Apa yang dimaksud dengan bergeraknya tanah adalah gerakan partikel tanah. Partikel ini terdiri dari lapisan-lapisan yang terdiri atas bahan silika dan alumina. Ketika air masuk ke lapisan-lapisan partikel, maka akan terjadi pembengkakan dari partikel-partikel pembentuk lumpur. Hal ini dapat dijelaskan demikian:
1.Muatan listrik elektrostatis yang ada di permukaan partikel (yang terjadi setelah kehadiran air) akan mengakibatkan terganggunya stabilitas. Partikel ini akan bergerak terus, sebelum ada stabilisator yang berupa partikel yang bermuatan listrik yang berlawanan. Di sini kita seharusnya bersyukur, tentang bagaimana Allah telah menciptakan semuanya dalam pasangan-pasangan, sehingga mendatangkan suasana yang stabil dan sentosa. Termasuk dalam hal ini adalah muatan listrik
2.Pergerakan partikel tanah juga disebabkan karena adanya tabrakan dengan partikel air. Pergerakan partikel air yang tidak teratur menyebabkan partikel tanah bergerak ke semua arah. Gerakan yang demikian ini ditemukan oleh seorang ahli tumbuhan bernama Robert Brown pada tahun 1828. Pergerakannya sangat tergantung pada kecepatan dan jumlah partikel air. Dengan demikian, pergerakan yang terjadi adalah interaksi langsung antara partikel tanah dan partikel air.
Kedua: Mengembangnya tanah. Apa yang dimaksud dengan mengembangnya tanah adalah mengembangnya partikel tanah. Partikel tanah akan bertambah tebal. Dengan demikian, tanah akan mengembang, sejalan dengan mengembangnya partikel tanah. Telah dikemukakan sebelumnya bahwa partikel tanah terdiri atas lapisan-lapisan yang berhubungan satu sama lain. Antara lapisan satu dan lainnya terdapat pori-pori. Ke dalam pori-pori inilah air dan ion-ion yang terlarut akan masuk. Dengan bentuk pori-pori yang sangat sempit dan adanya medan elektrostatis di permukaan lapisan, maka air seperti di taruh dalam botol, dan tidak mengalir ke luar. Dengan kata lain, air akan disimpan di pori-pori di setiap lapisan.
Ketiga: Tahap Perkecambahan. Tahap perkecambahan biji terjadi saat air sudah tersedia. Saat air sudah pada tahap cukup, maka embrio yang ada di dalam biji akan menjadi aktif dan menyerap matrial nutrisi yang sederhana (material nutrisi kompleks dipecah menjadi sederhana dengan bantuan enzim). Pada tahap ini, bakal akar tumbuh ke bawah, bergerak di antara partikel tanah untuk mencari kawasan yang memenuhi syarat dan memperoleh nutrisi yang diperlukannya. Kemudian bakal daun akan berkembang ke atas, menembus permukaan tanah, dan mengarahkan pada sumber sinar matahari.
Jadi, secara singkat, tahapan-tahapan di atas dapat dijelaskan demikian. Kata "bergerak" jelas mengindikasikan efek dari air terhadap partikel tanah. Efek ini dapat terjadi sebagai akibat adanya muatan listrik elektrostatis atau benturan langsung antara partikel-partikel air dan tanah. Sedangkan kata "membengkak" mengacu pada menebalnya partikel tanah karena terperangkapnya air di antara lapisan-lapisan pembentuk partikel tanah. Dengan demikian, partikel tanah berfungsi sebagai reservoar air, tempat menyimpan air. Ini sesuai dengan ayat berikut:
Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya. (al-Mu'minun/23: 18)
Kemudian bakal akar, dan disusul bakal daun, mulai tumbuh. Anak pohon akan muncul, terus tumbuh dan memberikan hasil untuk keperluan manusia. Apakah manusia masih tidak bersyukur?
Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi setelah mati (kering). Sungguh, itu berarti Dia pasti (berkuasa) menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (ar-Rum/30: 50)
Penjelasan ayat 11–32 sekaligus.
"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang meng-hendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat) yang mulia lagi berbakti. Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya. Dari apakah Allah mencipta-kannya. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentu-kannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia me-matikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baik-nya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." ('Abasa: 11-32).
(11-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴿ كـَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ 11 ﴾ "Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringat-an," yakni, benar nasihat ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى yang dijadikan sebagai peringatan untuk hamba-hambaNya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan semua yang diperlukan oleh manusia dalam kitab-Nya serta memberi penjelasan antara petunjuk dan kesesatan. Bila hal itu telah jelas, ﴿ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴾ "maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya," yakni mempraktikkannya. Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴿ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴾ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman), hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir), biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tempat peringatan ini dan mengagungkannya serta mengangkat derajatnya seraya berfirman, ﴿ فِي صُحُفٖ مُّكَرَّمَةٖ 13 مَّرۡفُوعَةٖ ﴾ "Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang diting-gikan," yakni kemuliaan dan derajatnya, ﴿ مُّطَهَّرَةِۭ ﴾ "lagi disucikan," dari berbagai kotoran dan agar tidak diraih oleh tangan-tangan setan atau dicuri, tapi ia berada ﴿ بِأَيۡدِي سَفَرَةٖ ﴾ "di tangan para penulis (malaikat)," mereka adalah para malaikat yang menjadi duta antara Allah سبحانه وتعالى dan hamba-hambaNya, ﴿ كِرَامِۭ ﴾ "yang mulia," yakni yang banyak ke-baikan dan berkahnya, ﴿ بَرَرَةٖ ﴾ "lagi berbakti," baik hati dan baik amal mereka. Semua itu demi menjaga kitab Allah سبحانه وتعالى dengan mengutus para duta malaikat yang mulia, kuat, dan bertakwa, sehingga setan tidak memiliki cara untuk mendekatinya. Dan ini mengharuskan untuk diimani dan diterima.
(17-23) Meski seperti itu, manusia tetap saja kufur. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴿ قُتِلَ ٱلۡإِنسَٰنُ مَآ أَكۡفَرَهُۥ ﴾ "Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya" terhadap nikmat Allah سبحانه وتعالى, dan alangkah hebat pembangkangannya pada kebenaran setelah kebenaran itu jelas, padahal dia sendiri apa? Dia hanyalah makhluk paling lemah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى dari air hina kemudian ditentukan wujud-nya serta disempurnakan menjadi manusia sempurna lalu Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan kekuatan lahir dan batinnya. ﴿ ثُمَّ ٱلسَّبِيلَ يَسَّرَهُۥ ﴾ "Kemudian Dia memudahkan jalannya," yakni Allah سبحانه وتعالى memudahkan baginya sebab-sebab Agama dan dunia dan menunjukkan pada jalan lurus serta menjelaskannya. Allah سبحانه وتعالى mengujinya dengan pe-rintah dan larangan. ﴿ ثُمَّ أَمَاتَهُۥ فَأَقۡبَرَهُۥ ﴾ "Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur," yakni, memuliakannya dengan di-semayamkan dan tidak dijadikan seperti hewan yang bangkainya dibiarkan saja tergeletak di atas tanah. ﴿ ثُمَّ إِذَا شَآءَ أَنشَرَهُۥ ﴾ "Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali," yakni membang-kitkannya setelah kematian untuk pembalasan amal. Hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang mengatur manusia dan menga-rahkannya pada hal-hal tersebut. Tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. Meski demikian, manusia tetap saja tidak mau menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau menu-naikan kewajiban yang dibebankan padanya. Bahkan senantiasa bermalas-malasan tapi banyak meminta.
(24-32) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengarahkannya untuk mere-nung dan berpikir pada makanannya, bagaimanakah makanan itu sampai padanya setelah melalui berbagai fase dan dimudahkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuknya seraya berfirman, ﴿ فَلۡيَنظُرِ ٱلۡإِنسَٰنُ إِلَىٰ طَعَامِهِۦٓ 24 أَنَّا صَبَبۡنَا ٱلۡمَآءَ صَبّٗا 25 ﴾ "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, se-sungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit)," yakni Kami turunkan hujan ke bumi dengan lebat, ﴿ ثُمَّ شَقَقۡنَا ٱلۡأَرۡضَ شَقّٗا ﴾ "kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya" untuk tumbuh-tumbuhan, ﴿ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا ﴾ "lalu Kami tumbuhkan di bumi itu," berbagai macam jenis makanan lezat dan hidangan nikmat, ﴿ حَبّٗا ﴾ "biji-bijian," dan ini mencakup seluruh macam biji-bijian dengan berbagai ma-camnya, ﴿ وَعِنَبٗا وَقَضۡبٗا ﴾ "anggur dan sayur-sayuran," yaitu sayur-sayuran hijau, ﴿ وَزَيۡتُونٗا وَنَخۡلٗا ﴾ "zaitun dan pohon kurma." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat macam di atas secara khusus karena manfaatnya yang besar. ﴿ وَحَدَآئِقَ غُلۡبٗا ﴾ "Dan kebun-kebun (yang) lebat," yakni, kebun-kebun yang di dalamnya terdapat banyak pohon yang saling berjubel satu sama lain, ﴿ وَفَٰكِهَةٗ وَأَبّٗا ﴾ "dan buah-buahan serta rumput-rumputan," buah-buahan yang disenangi orang, seperti buah tin, anggur, delima, dan lainnya. Sedangkan rumput-rumputan adalah makanan hewan dan binatang ternak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴿ مَّتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِأَنۡعَٰمِكُمۡ ﴾ "Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu," yang diciptakan dan ditundukkan Allah سبحانه وتعالى bagi kalian. Maka siapa pun yang memperhatikan berbagai nikmat ini, wajib baginya bersyukur kepada Rabbnya dan mencurahkan daya untuk kembali padaNya dan mengarah pada ketaatan, serta membenarkan berita-beritaNya.
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini memuat 1 bacaan bertajwid: idgham (1).
Huruf mati dileburkan ke huruf berikutnya yang bertasydid.