Penjelasan ayat 18–21 sekaligus.
"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehen-daki bagi orang yang Kami kehendaki, kemudian Kami tentukan baginya Neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang dia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Rabbmu. Dan kemurahan Rabbmu tidak dapat dihala-ngi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari me-reka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya." (Al-Isra`: 18-21).
(18) Allah تعالى memberitahukan bahwasanya ﴿ مَّن كَانَ يُرِيدُ ﴾ "ba-rangsiapa menghendaki," (kehidupan) dunia ﴿ ٱلۡعَاجِلَةَ ﴾ "kehidupan se-karang," yang akan berakhir lagi fana, kemudian dia bekerja dan ber-usaha untuk meraihnya sehingga dia lupa tempat asal dan tujuan akhir hidupnya (akhirat), maka Allah akan segera memberikan sebagian kekayaan dan perhiasan dunia yang dia inginkan dan kehendaki, (sesuai jatah) yang telah Allah tulis baginya di Lauhul Mahfuzh. Hanya saja, semua itu bukanlah kenikmatan yang mem-punyai nilai manfaat lagi tidak kekal baginya. Kemudian di akhirat kelak, Allah menyediakan baginya ﴿ جَهَنَّمَ يَصۡلَىٰهَا ﴾ "Neraka Jahanam, dia memasukinya," maksudnya dia merasakan langsung siksaanNya ﴿ مَذۡمُومٗا مَّدۡحُورٗا ﴾ "dalam keadaan tercela dan terusir," dalam keadaan ke-hinaan, terbongkar seluruh aibnya dan tercela di hadapan Allah dan para makhluk (juga) jauh dari rahmat Allah. Maka Allah menyatu-kan baginya antara deraan siksa dengan kehinaan bagi orang itu.
(19) ﴿ وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴾ "Dan barangsiapa yang menghendaki kehi-dupan akhirat," kemudian dia menyukai dan mengutamakannya daripada kehidupan dunia ﴿ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا ﴾ "dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh," (tempat) yang mana kitab samawi dan atsar nabi mengajak kepadanya, lalu dia beramal sesuai dengan batas (maksimal) kemampuannya ﴿ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ ﴾ "sedang dia orang yang beriman," kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, dan Hari Akhir, ﴿ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا ﴾ "maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik," maksudnya, amalnya diterima, berkembang dan tersimpan. Bagi mereka pahala dan ganjaran di sisi Rabbnya.
(20) Walaupun demikian, jatah mereka di dunia tidak terle-watkan. Masing-masing pihak dibantu oleh Allah dari bagian kenik-matan dunia, karena itu merupakan cerminan curahan karunia dan kebaikan Allah تعالى.
(21) ﴿ ٱنظُرۡ كَيۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ ﴾ "Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain)," di dunia dengan kelapangan rizki dan keterbatasannya, kemudahan dan kesusahan, pengetahuan dan kebodohan, kecerdasan dan ketololan, dan aspek-aspek lainnya yang mana Allah melebihkan sebagian orang dari sebagian yang lain dengannya. ﴿ وَلَلۡأٓخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَٰتٖ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلٗا ﴾ "Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya." Maka tidak bisa di-perbandingkan antara kenikmatan dunia dengan kenikmatan akhi-rat dalam segala sudut. Alangkah jauh perbedaan antara orang yang berada di istana-istana yang tinggi, aneka kelezatan yang bermacam-macam, beragam jenis kebaikan, rangkaian kebahagiaan, dengan orang yang menggelepar-gelepar di dalam Neraka Jahim, tersiksa dengan azab yang pedih, dan kemurkaan Rabb Yang Maha Penya-yang sudah mengenainya. Dan masing-masing dari dua kampung itu (dunia dan akhirat) di hadapan para penghuninya mempunyai sisi-sisi perbedaan yang tidak terhitung jumlahnya oleh seseorang.