Surat Al-Ma'un Ayat 5
QS. Al-Ma'un: 5 · Juz 30 · Makkiyah
ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ
Allażīna hum ‘an ṣalātihim sāhūn(a).
(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,
Baca dalam Surat Al-Ma'unQS. Al-Ma'un: 5 · Juz 30 · Makkiyah
ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ
Allażīna hum ‘an ṣalātihim sāhūn(a).
(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,
Baca dalam Surat Al-Ma'unDalam ayat-ayat ini, Allah mengungkapkan satu ancaman yaitu celakalah orang-orang yang mengerjakan salat dengan tubuh dan lidahnya, tidak sampai ke hatinya. Dia lalai dan tidak menyadari apa yang diucapkan lidahnya dan yang dikerjakan oleh anggota tubuhnya. Ia rukuk dan sujud dalam keadaan lalai, ia mengucapkan takbir tetapi tidak menyadari apa yang diucapkannya. Semua itu adalah hanya gerak biasa dan kata-kata hafalan semata-mata yang tidak mempengaruhi apa-apa, tidak ubahnya seperti robot.
Perilaku tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mendustakan agama, yaitu orang munafik. Ancaman itu tidak ditujukan kepada orang-orang muslim yang awam, tidak mengerti bahasa Arab, dan tidak tahu tentang arti dari apa yang dibacanya. Jadi orang-orang awam yang tidak memahami makna dari apa yang dibacanya dalam salat tidak termasuk orang-orang yang lalai seperti yang disebut dalam ayat ini.
Penjelasan ayat 1–7 sekaligus.
"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan mem-beri makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya`, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (Al-Ma'un: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya mencela orang yang mening-galkan kewajiban-kewajiban terhadapNya dan terhadap hamba-hambaNya, ﴿ أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ﴾ "Tahukah kamu (orang) yang men-dustakan agama," yakni mendustakan kebangkitan dan pembalasan dan tidak beriman dengan apa yang dibawa oleh para rasul.
(2) ﴿ فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ﴾ "Itulah orang yang menghardik anak yatim," yakni membentaknya dengan kasar dan keras, tidak menga-sihinya karena kerasnya hatinya, dan karena ia tidak mengharap-kan pahala, dan tidak takut akan siksa.
(3) ﴿ وَلَا يَحُضُّ ﴾ "Dan tidak menganjurkan" orang lain ﴿ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ﴾ "memberi makan orang miskin," dan lebih-lebih lagi, dia sen-diri tidak memberi makan orang miskin.
(4-5) ﴿ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ ﴾ "Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat," yaitu orang-orang yang konsisten menegakkan shalat, tapi mereka adalah ﴿ ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ ﴾ "orang-orang yang lalai dari shalatnya," yaitu menyia-nyiakannya, tidak shalat hingga waktunya berlalu dan tidak memenuhi rukun-rukunnya. Hal itu disebabkan mereka tidak mengindahkan titah Allah سبحانه وتعالى, karena mereka menyia-nyiakan shalat yang merupakan ketaatan paling utama. Melalaikan shalat membuat pelakunya berhak mendapatkan celaan dan hinaan. Lain halnya dengan lupa pada saat shalat, karena siapa saja bisa lupa, termasuk Nabi a sendiri.
(6-7) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat mereka sebagai orang yang berbuat riya`, keras hati, dan tidak memiliki belas kasih seraya berfirman, ﴿ ٱلَّذِينَ هُمۡ يُرَآءُونَ ﴾ "Orang-orang yang berbuat riya`," yakni, melakukan pekerjaan untuk dilihat orang,﴿ وَيَمۡنَعُونَ ٱلۡمَاعُونَ ﴾ "dan enggan (menolong dengan) barang berguna," yaitu enggan memberikan sesuatu yang tidak memudaratkan untuk diberikan dengan cara dipinjamkan atau dihibahkan seperti bejana, gayung, kapak, dan lainnya yang biasanya diberikan atau direlakan. Mere-ka itu, karena amat kikir, enggan memberikan barang-barang yang berguna, lantas bagaimana halnya dengan benda yang lebih besar nilainya? Dalam surat ini terdapat anjuran serta dorongan untuk mem-beri makan anak yatim dan orang miskin, menjaga dan memelihara shalat, menunaikannya dengan ikhlas dan juga dengan amal-amal lainnya, dorongan untuk mengerjakan kebajikan, memberikan benda-benda misalnya meminjamkan bejana, gayung, kitab, dan lainnya, karena Allah سبحانه وتعالى mencela orang yang tidak melakukan hal itu. Wallahu a'lam.
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini memuat 1 bacaan bertajwid: ikhfa (1).
Nun mati atau tanwin (juga mim mati sebelum ba) dibaca samar sambil berdengung.