Surat Al-Qalam Ayat 18
QS. Al-Qalam: 18 · Juz 29 · Makkiyah
وَلَا يَسۡتَثۡنُونَ
Wa lā yastaṡnūn(a).
dan mereka tidak mengucapkan, "Insyaallah ",
Baca dalam Surat Al-QalamQS. Al-Qalam: 18 · Juz 29 · Makkiyah
وَلَا يَسۡتَثۡنُونَ
Wa lā yastaṡnūn(a).
dan mereka tidak mengucapkan, "Insyaallah ",
Baca dalam Surat Al-QalamAyat ini menerangkan bahwa Allah telah memberi orang-orang musyrik Mekah nikmat yang banyak berupa kesenangan hidup di dunia dan kemewahan. Semua itu bertujuan untuk mengetahui apakah mereka mau mensyukuri nikmat lebih yang diberikan itu dengan mengeluarkan hak-hak orang miskin, memperkenankan seruan Nabi saw untuk mengikuti jalan yang benar serta tunduk dan taat kepada Allah, atau dengan nikmat ini, mereka ingin menumpuk harta, menantang seruan Nabi, dan menyimpang dari jalan yang benar? Allah akan menimpakan azab yang pedih kepada mereka dan melenyapkan nikmat-nikmat itu seandainya mereka tetap ingkar, sebagaimana yang menimpa beberapa pemilik kebun.
Pemilik kebun itu semula adalah seorang laki-laki saleh, taat, dan patuh melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Ia mempunyai sebidang kebun sebagai sumber penghidupannya. Jika akan memetik hasil kebunnya, ia memberitahu orang-orang fakir dan miskin agar datang ke kebunnya, dan langsung memberikan hak-hak mereka yang terdapat dari hasil kebun itu. Setelah ia meninggal dunia, kebun itu diwarisi oleh anak-anak mereka. Pada waktu akan memetik hasilnya, mereka pun bermusyawarah apakah tetap melakukan seperti yang telah dilakukan ayah mereka atau membuat rencana baru. Salah seorang di antaranya mengusulkan agar tetap melakukan apa yang biasa dilakukan bapak mereka, yaitu memberitahu orang-orang fakir miskin agar datang pada waktu hari memetik.
Akan tetapi, usulan ini ditolak oleh saudara-saudaranya yang lain. Mereka tidak mau memberikan hasil kebun itu sedikit pun kepada fakir-miskin sebagaimana yang telah dilakukan bapaknya. Sekalipun telah diingatkan oleh saudara yang seorang itu akan bahaya yang mungkin menimpa, tetapi mereka tetap dengan keputusan untuk memetik hasil kebun itu tanpa memberitahu lebih dahulu kepada fakir-miskin, dan seluruh hasil kebun itu akan mereka miliki sendiri tanpa mengeluarkan hak-hak orang lain yang ada di dalamnya.
Para ahli waris pemilik kebun itu mengingkari ketentuan-ketentuan yang biasa dilakukan bapaknya ketika hidup, setelah melihat kesuburan tanamannya dan kelebatan buah yang akan dipetik. Mereka pun yakin bahwa semua itu pasti akan menjadi milik mereka. Oleh karena itu, mereka bersumpah akan memetiknya pagi-pagi benar agar tidak diketahui oleh seorang pun. Mereka juga sepakat untuk tidak akan memberikan hasil kebun itu kepada orang lain walaupun sedikit.
Penjelasan ayat 17–33 sekaligus.
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴿ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴾ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴿ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴾ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴿ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴾ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴿ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴾ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴿ فَٱنطَلَقُواْ ﴾ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴿ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴾ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴿ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴾ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴿ وَغَدَوۡاْ ﴾ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴿ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴾ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴿ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴾ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴿ قَالُوٓاْ ﴾ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴿ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴾ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴿ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴾ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴿ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴾ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴿ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴾ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴿ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴾ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴿ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴾ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴿ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴾ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴿ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴾ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴿ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴾ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴿ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴾ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴿ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴾ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini tidak memuat hukum ikhfa, idgham, iqlab, ghunnah, maupun qalqalah; hurufnya dibaca jelas (izhar) sesuai makhrajnya.