Surat An-Nas Ayat 6
QS. An-Nas: 6 · Juz 30 · Madaniyah
مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ
Minal jinnati wan-nās(i).
dari (golongan) jin dan manusia".
Baca dalam Surat An-NasQS. An-Nas: 6 · Juz 30 · Madaniyah
مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ
Minal jinnati wan-nās(i).
dari (golongan) jin dan manusia".
Baca dalam Surat An-NasAllah menerangkan dalam ayat ini tentang godaan tersebut, yaitu bisikan setan yang tersembunyi yang ditiupkan ke dalam dada manusia, yang mungkin datangnya dari jin atau manusia, sebagaimana dalam ayat lain Allah berfirman:
Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin. (al-An'am/6: 112)
Setan-setan jin itu seringkali membisikkan suatu keraguan dengan cara yang sangat halus kepada manusia. Seringkali dia menampakkan dirinya sebagai penasihat yang ikhlas, tetapi bila engkau menghardiknya ia mundur dan bila diperhatikan bicaranya ia terus melanjutkan godaannya secara berlebih-lebihan.
Surah ini dimulai dengan kata pendidik, karena itu Tuhan sebagai pendidik manusia, berkuasa untuk menolak semua godaan setan dan bisikannya dari manusia. Allah memberi petunjuk dalam surah ini agar manusia memohon pertolongan hanya kepada Allah sebagaimana Dia telah memberi petunjuk yang serupa dalam surah al-Fatihah, bahwa dasar yang terpenting dalam agama adalah menghadapkan diri dengan penuh keikhlasan kepada Allah baik dalam ucapan, maupun perbuatan lainnya dan memohon perlindungan kepada-Nya dari segala godaan setan yang ia sendiri tidak mampu menolaknya.
Penjelasan ayat 1–6 sekaligus.
"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia'." (An-Nas: 1-6).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-6) Surat ini mencakup perlindungan diri kepada Rabb manusia, Penguasa dan Sesembahan mereka, dari setan yang meru-pakan pangkal dan materi dasar segala kejahatan. Di antara fitnah dan kejahatannya adalah bisikan dalam dada manusia. Keburukan dibuat seolah-olah baik untuk mereka dan diperlihatkan dalam bentuk yang indah, menggerakkan keinginan mereka agar mela-kukannya, menghalangi mereka dari kebaikan dan kebaikan di-perlihatkan pada mereka dengan wujud lain. Setan selalu berada dalam kondisi seperti itu, membisiki kemudian menunda bisikan bila manusia mengingat Rabbnya dan meminta pertolongan kepa-daNya untuk menangkal bisikan tersebut. Maka manusia selayaknya meminta pertolongan dan perlindungan serta berpegangan pada pemeliharaan Allah سبحانه وتعالى, karena semua makhluk berada di bawah Rububiyah dan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, semua ubun-ubun makhluk yang melata berada dalam genggaman Allah سبحانه وتعالى, dan di bawah uluhiyahNya yang menjadi tujuan penciptaan makhluk. Karena itu, tidaklah tujuan itu sempurna untuk manusia tanpa menangkal kejahatan musuh mereka yang ingin memutuskan mereka dan menghalangi mereka darinya dan ingin menjadikan mereka sebagai golongannya, agar mereka menjadi penghuni Neraka Sa'ir. Bisikan, sebagaimana berasal dari setan juga bisa berasal dari manusia, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴿ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ ﴾ "Dari jin dan manusia."
Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam, secara permulaan, penutup, lahir dan batin. Kita memohon semoga Allah سبحانه وتعالى menyempurnakan nikmatNya, memaafkan dosa-dosa kita yang menghalangi kita dari berbagai berkahNya, semoga Allah سبحانه وتعالى meng-ampuni kesalahan dan keinginan hawa nafsu kita yang melenyap-kan renungan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى dari hati kita. Kita berharap ke-padaNya semoga tidak menghalangi kita dari kebaikan yang ada di sisiNya karena keburukan yang ada pada diri kita, karena sesungguhnya hanya kaum kafir dan orang-orang sesatlah yang berputus asa dari rahmat Allah سبحانه وتعالى. Semoga shalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada RasulNya, Muhammad, dan kepada seluruh sahabat beliau, shalawat dan salam yang senantiasa ber-gema selama-selamanya. Dan segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, yang karena nikmatNya-lah segala kebaikan terlaksana. Tafsir kitab Allah سبحانه وتعالى selesai berkat pertolongan dan taufikNya kepada perangkum dan penulisnya, Abdurrahman bin Nashir Ibnu Abdullah yang dikenal sebagai Ibnu Sa'di. Semoga Allah سبحانه وتعالى ber-kenan mengampuni beliau, orang tua beliau, dan seluruh kaum Muslimin. Penulisan berhasil diselesaikan pada 7 Sya'ban 1345 H. Wahai Rabb kami! Terimalah amal kami dan ampunilah kami, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini memuat 2 bacaan bertajwid: ghunnah (2).
Nun atau mim bertasydid didengungkan sekitar dua harakat.