Surat Ar-Rahman Ayat 16
QS. Ar-Rahman: 16 · Juz 27 · Madaniyah
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Baca dalam Surat Ar-RahmanQS. Ar-Rahman: 16 · Juz 27 · Madaniyah
فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Fa bi'ayyi ālā'i rabbikumā tukażżibān(i).
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Baca dalam Surat Ar-RahmanAyat ini menunjukkan nikmat yang berlimpah-limpah yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya baik itu dari kalangan jin maupun manusia, tetapi mengapa mereka mendustakan. Dalam hubungan ayat ini Ibnu 'Umar berkata: Rasulullah saw membaca Surah ar-Rahman atau surah itu dibacakan kepadanya, lalu beliau bersabda, "Mengapa saya mendengar jin lebih baik jawabannya kepada Tuhannya dari kalian?" Mereka bertanya, "Apakah itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjelaskan tentang jawaban mereka (jin) apabila saya membaca firman Allah, "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" Maka mereka berkata, "Tidak ada sesuatu pun dari nikmat Tuhan yang kami dustakan." (Riwayat Ibnu Jarir dari Ibnu 'Umar)
Penjelasan ayat 14–16 sekaligus.
"Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembi-kar, Dia menciptakan jin dari nyala api. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar-Rahman: 14-16).
(14) Ini merupakan nikmat-nikmat Allah تعالى yang Dia anu-gerahkan kepada para hambaNya, di mana Dia سبحانه وتعالى memperlihatkan kepada mereka di antara bukti KuasaNya dan keindahan ciptaan-Nya, dengan ﴿ خَلَقَ ﴾ "menciptakan" bapak moyang ﴿ ٱلۡإِنسَٰنَ ﴾ "ma-nusia" yaitu Nabi Adam عليه السلام, ﴿ مِن صَلۡصَٰلٖ كَٱلۡفَخَّارِ ﴾ "dari tanah kering seperti tembikar," maksudnya dari tanah basah yang telah Dia ko-kohkan sampai kering sehingga kemudian menjadi tanah yang memiliki kekeringan dan suara seperti suara tembikar, yaitu tanah yang terbakar.
(15) ﴿ وَخَلَقَ ٱلۡجَآنَّ ﴾ "Dia menciptakan jin" maksudnya, bapak moyang jin, yaitu iblis –semoga Allah melaknatnya– ﴿ مِن مَّارِجٖ مِّن نَّارٖ ﴾ "dari nyala api," maksudnya, dari nyala api yang tulen, atau yang telah bercampur dengan asap. Ini menunjukkan kemuliaan unsur manusia yang diciptakan dari tanah yang merupakan tempat ke-mantapan, berat, dan sarat dengan manfaat. Berbeda halnya dengan unsur jin yaitu api yang merupakan keringanan (enteng), keburukan, dan kerusakan.
(16) Tatkala menjelaskan penciptaan jin dan manusia serta materi untuk menciptakannya, yang mana hal itu merupakan anu-gerah Allah تعالى atas mereka, Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴿ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ﴾ "Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini tidak memuat hukum ikhfa, idgham, iqlab, ghunnah, maupun qalqalah; hurufnya dibaca jelas (izhar) sesuai makhrajnya.