Surat Ar-Rahman Ayat 3
QS. Ar-Rahman: 3 · Juz 27 · Madaniyah
خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ
Khalaqal-insān(a).
Dia menciptakan manusia.
Baca dalam Surat Ar-RahmanQS. Ar-Rahman: 3 · Juz 27 · Madaniyah
خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ
Khalaqal-insān(a).
Dia menciptakan manusia.
Baca dalam Surat Ar-RahmanPada ayat ini Allah menyebutkan nikmat-Nya yang lain yaitu penciptaan manusia. Nikmat itu merupakan landasan nikmat-nikmat yang lain. Sesudah Allah menyatakan nikmat mengajarkan Al-Qur'an pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Dia menciptakan jenis makhluk-Nya yang terbaik yaitu manusia dan diajari-Nya pandai mengutarakan apa yang tergores dalam hatinya dan apa yang terpikir dalam otaknya, karena kemampuan berpikir dan berbicara itulah Al-Qur'an bisa diajarkan kepada umat manusia. Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Ia dijadikan-Nya tegak, sehingga tangannya lepas. Dengan tangan yang lepas, otak bebas berpikir, dan tangan dapat merealisasikan apa yang dipikirkan oleh otak. Otak menghasilkan ilmu pengetahuan, dan tangan menghasilkan teknologi. Ilmu dan teknologi adalah peradaban, dengan demikian hanya manusia yang memiliki peradaban. Lidah adalah organ yang terletak pada rongga mulut. Organ ini, yang merupakan struktur berotot yang terdiri atas tujuh belas otot yang memiliki beberapa fungsi. Fungsi pengecap rasa adalah salah satu fungsi lidah yang utama. Terdapat sekitar 10.000 titik pengecap di lidah. Lidah juga berfungsi untuk turut membantu mengatur bunyi untuk berkomunikasi. Lidah, dalam agama, hampir selalu dikaitkan dengan hati, dan digunakan untuk mengukur baik-buruknya perilaku seseorang. Manusia akan menjadi baik apabila keduanya baik. Dan manusia akan menjadi buruk, apabila keduanya buruk. Nabi Muhammad saw menunjuk lidah sebagai faktor utama yang membawa bencana bagi manusia, dan ia merupakan tolok ukur untuk bagian tubuh lainnya. Beliau bersabda dalam hadisnya: Bukankah manusia dijungkirbalikkan wajah mereka di neraka karena lidah mereka? (Riwayat at-Tirmidhi dan Ibnu Majah) Jika manusia bangun di pagi hari, maka seluruh anggota tubuhnya mengingatkan lidah dan berpesan, "Bertakwalah kepada Allah menyangkut kami, karena kami tidak lain kecuali denganmu. Jika engkau lurus, kami pun lurus, dan jika engkau bengkok, kami pun bengkok." (Riwayat at-Tirmidhi)
Untuk dapat mengeluarkan bunyi yang berbeda-beda, atau yang disebut berbicara, lidah bekerjasama dengan beberapa organ lainnya, seperti bibir, rongga mulut, paru-paru, kerongkongan, dan pita suara. Kita dapat berkomunikasi dengan berbicara, setelah seluruh masyarakat menyepakati arti dari satu bunyi. Kemudian bunyi-bunyi yang masing-masing sudah disepakati artinya tersebut digabungkan dalam susunan yang tepat untuk menjadi kalimat. Pada tahap selanjutnya, akan tercipta suatu bahasa. Bahasa diuraikan dalam salah satu ayat Allah demikian:
Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orangorang yang mengetahui. (ar-Rum/30: 22)
Penjelasan ayat 1–13 sekaligus.
"(Rabb) Yang Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan al-Qur`an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan bintang-bintang dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepadaNya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya). Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Ar-Rahman: 1-13).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) Surat yang mulia nan agung ini Allah awali dengan (salah satu) NamaNya, yaitu ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), yang menunjukkan betapa luas rahmat dan pemberianNya, serta betapa melimpah kebaikan dan karuniaNya. Kemudian Allah menyebutkan apa yang menunjukkan rahmatNya serta pengaruh yang Allah berikan kepada para hamba berupa nikmat keduniaan, keagamaan, dan keakhiratan. Setelah Allah menyebutkan segala macam dan jenis kenikmatanNya, selanjutnya Dia memperingatkan jin dan manusia untuk bersyukur kepadaNya, dengan berfirman, ﴿ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ﴾ "Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
(2) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan (dalam ayat ini) bahwa Dia ﴿ عَلَّمَ ٱلۡقُرۡءَانَ ﴾ "telah mengajarkan Al-Qur`an," yakni mengajarkan para ham-baNya lafazh-lafazh dan makna al-Qur`an serta memudahkannya untuk mereka. Hal ini merupakan karunia teragung dan kasih sayang yang Dia anugerahkan kepada hamba-hambaNya, di mana Dia سبحانه وتعالى telah menurunkan al-Qur`an berbahasa Arab dengan lafazh paling indah dan makna paling jelas, yang mencakup segala bentuk kebaikan dan mencegah dari segala kejahatan.
(3-4) ﴿ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ ﴾ "Dia menciptakan manusia" dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dengan anggota badan yang sempurna dan bentuk tubuh yang mantap. Allah سبحانه وتعالى benar-benar telah mencipta-kannya dengan sempurna, dan telah memberinya keistimewaan sehingga berbeda dengan binatang, di mana Dia سبحانه وتعالى ﴿ عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ ﴾ "mengajarnya pandai berbicara," untuk dapat menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya. Hal ini mencakup pengajaran berbicara dan menulis. Oleh karena itu, kemampuan berbicara (menjelaskan) yang dengannya Allah سبحانه وتعالى mengistimewakan manusia daripada makhluk lainnya, adalah di antara nikmat yang paling agung dan paling besar.
(5) ﴿ ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ بِحُسۡبَانٖ ﴾ "Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan," yakni Allah سبحانه وتعالى menciptakan matahari dan bulan serta menundukkan keduanya untuk beredar sesuai dengan perhitungan yang cermat dan terencana sebagai bentuk rahmat dan perhatian Allah kepada para hamba, sebagai kemaslahatan bagi mereka, dan agar mereka mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).
(6) ﴿ وَٱلنَّجۡمُ وَٱلشَّجَرُ يَسۡجُدَانِ ﴾ "Dan bintang-bintang dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepadaNya," yakni, bintang-bintang di langit dan pohon-pohon di bumi, semuanya mengetahui Rabb mereka, sujud kepadaNya, taat, tunduk dan patuh (dengan melaksanakan) tujuan ia diciptakan dan ditundukkan sebagai kemaslahatan bagi para hamba.
(7-8) ﴿ وَٱلسَّمَآءَ رَفَعَهَا ﴾ "Dan Allah telah meninggikan langit," seba-gai atap bagi makhluk bumi, ﴿ وَوَضَعَ ٱلۡمِيزَانَ ﴾ "dan Dia meletakkan neraca (keadilan)," yakni keadilan di antara para hamba, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Bukan hanya neraca (mizan) yang kita ketahui, akan tetapi yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah se-perti yang kami kemukakan, termasuk di dalamnya mizan tersebut, juga alat untuk menakar barang, alat-alat untuk mengetahui segala sesuatu yang belum diketahui, serta hakikat kebenaran yang de-ngannya diputuskan perkara makhluk dan ditegakkan keadilan di antara mereka. Oleh sebab itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴿ أَلَّا تَطۡغَوۡاْ فِي ٱلۡمِيزَانِ ﴾ "Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu," yakni, Allah سبحانه وتعالى meletakkan neraca (keadilan) agar mereka tidak melampaui batas di dalam timbangan, karena apabila perkara ini dikembalikan kepada akal dan pemikiran kalian, niscaya akan terjadi kekacauan yang Allah Mahatahu akan hal itu, dan akan rusaklah langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya.
(9) ﴿ وَأَقِيمُواْ ٱلۡوَزۡنَ بِٱلۡقِسۡطِ ﴾ "Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil," artinya, jadikanlah timbangan itu untuk menegakkan keadilan, yang mana kemampuan dan kecakapan kalian sampai kepadanya. ﴿ وَلَا تُخۡسِرُواْ ٱلۡمِيزَانَ ﴾ "Dan janganlah kamu mengurangi neraca itu," yakni janganlah menguranginya dan melakukan sebaliknya, yakni keti-dakadilan, kezhaliman, dan kesewenang-wenangan.
(10) ﴿ وَٱلۡأَرۡضَ وَضَعَهَا ﴾ "Dan Allah telah meratakan bumi," yang memiliki ketebalan, kepadatan, keberagaman sifat dan kondisi, ﴿ لِلۡأَنَامِ ﴾ "untuk makhluk(Nya)," agar mereka tinggal di atasnya dan bumi itu menjadi tempat tidur bagi mereka. Di sana mereka mem-bangun (rumah tempat tinggal), bercocok tanam, mengolah tanah, menggali (sumur), menapaki jalan-jalan yang luas, memanfaatkan hasil tambang, dan (memanfaatkan) segala sesuatunya yang men-jadi kebutuhan mereka.
Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian makanan pokok yang ada di atas bumi, dengan FirmanNya,
(11) ﴿ فِيهَا فَٰكِهَةٞ ﴾ "Di bumi itu ada buah-buahan," yakni, semua jenis pepohonan yang menghasilkan buah-buahan yang dapat dinikmati oleh para hamba, berupa buah anggur, buah tin, buah delima, buah apel, dan selainnya, ﴿ وَٱلنَّخۡلُ ذَاتُ ٱلۡأَكۡمَامِ ﴾ "dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang," memiliki kelopak yang merekah dari tandan kemudian keluar sedikit demi sedikit hingga sempurna menjadi makanan pokok yang disimpan, dimakan dan dijadikan sebagai bekal, baik oleh musafir maupun orang yang mukim, serta menjadi buah-buahan terbaik yang lezat dan nikmat.
(12) ﴿ وَٱلۡحَبُّ ذُو ٱلۡعَصۡفِ ﴾ "Dan biji-bijian yang berkulit," yakni me-miliki tangkai yang ditebah sehingga bermanfaat untuk binatang ternak dan selainnya. Termasuk di dalamnya, biji gandum, beras gandum, jagung, padi, jewawut dan selainnya. ﴿ وَٱلرَّيۡحَانُ ﴾ "Dan bunga-bunga yang harum baunya," ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan Firman Allah سبحانه وتعالى ini adalah segala macam rizki yang dikonsumsi oleh manusia, sehingga kalimat ini merupakan pengindukan yang umum kepada yang khusus, yang artinya Allah سبحانه وتعالى telah mengaruniakan kepada para hambaNya berupa makanan dan segala macam rizki, baik secara umum maupun secara khusus. Dan dimungkinkan juga bahwa yang dimaksud dengan ar-Raihan di sini adalah tumbuh-tumbuhan berbau harum yang telah diketa-hui. Artinya bahwa Allah سبحانه وتعالى telah menganugerahkan kepada para hambaNya apa-apa yang menyenangkan di bumi, berupa segala macam yang berbau wangi yang dapat menyegarkan jiwa dan menyenangkan hati.
(13) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan banyak dari nikmat-nikmatNya yang dapat disaksikan dengan mata dan pandangan hati, di mana pesan ini ditujukan kepada jin dan manusia, Dia سبحانه وتعالى menyatakan nikmat-nikmatNya kepada mereka dengan berfirman, ﴿ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ﴾ "Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?" Yakni, nikmat din dan keduniaan manakah yang kalian dustakan? Dan alangkah bagusnya jawaban jin ketika Nabi a membacakan surat ini kepada mereka, setiap sampai kepada Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴿ فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ﴾ "Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?" Mereka menjawab, "Tidak ada satu pun nikmat dariMu yang kami dustakan wahai Rabb kami, maka bagiMu-lah segala pujian." Demikianlah yang seharusnya dilaku-kan oleh hamba, apabila disebutkan kepadanya nikmat dan karunia Allah, hendaknya ia mengakui dan mensyukurinya serta memuji Allah سبحانه وتعالى atasnya.
Kemudian Allah تعالى berfirman,
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini memuat 1 bacaan bertajwid: ikhfa (1).
Nun mati atau tanwin (juga mim mati sebelum ba) dibaca samar sambil berdengung.