Surat Ar-Rum Ayat 2
QS. Ar-Rum: 2 · Juz 21 · Makkiyah
غُلِبَتِ ٱلرُّومُ
Gulibatir-rūm(u).
Bangsa Romawi telah dikalahkan,
Baca dalam Surat Ar-RumQS. Ar-Rum: 2 · Juz 21 · Makkiyah
غُلِبَتِ ٱلرُّومُ
Gulibatir-rūm(u).
Bangsa Romawi telah dikalahkan,
Baca dalam Surat Ar-RumAyat ini menerangkan bahwa bangsa Romawi telah dikalahkan oleh bangsa Persia di negeri yang dekat dengan kota Mekah, yaitu negeri Syiria. Beberapa tahun kemudian setelah mereka dikalahkan, maka bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia sebagai balasan atas kekalahan itu.
Bangsa Romawi yang dimaksud dalam ayat ini ialah Kerajaan Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel, bukan kerajaan Romawi Barat yang berpusat di Roma. Kerajaan Romawi Barat, jauh sebelum peristiwa yang diceritakan dalam ayat ini terjadi, sudah hancur, yaitu pada tahun 476 Masehi. Bangsa Romawi beragama Nasrani (Ahli Kitab), sedang bangsa Persia beragama Majusi (musyrik).
Ayat ini merupakan sebagian dari ayat-ayat yang memberitakan hal-hal gaib yang menunjukkan kemukjizatan Al-Qur'an. Pada saat bangsa Romawi dikalahkan bangsa Persia, maka turunlah ayat ini yang menerangkan bahwa pada saat ini bangsa Romawi dikalahkan, tetapi kekalahan itu tidak akan lama dideritanya. Hanya dalam beberapa tahun saja, orang-orang Persia pasti dikalahkan oleh orang Romawi. Kekalahan bangsa Romawi ini terjadi sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Medinah. Mendengar berita ini, orang-orang musyrik Mekah bergembira, sedangkan orang-orang yang beriman dan Nabi bersedih hati.
Sebagaimana diketahui bahwa bangsa Persia beragama Majusi yang menyembah api, jadi mereka menyekutukan Tuhan. Orang-orang Mekah juga menyekutukan Tuhan dengan menyembah berhala. Oleh karena itu, mereka merasa agama mereka dekat dengan agama bangsa Persia, karena sama-sama mempersekutukan Tuhan. Kaum Muslimin merasa agama mereka dekat dengan agama Nasrani, karena sama-sama menganut agama Samawi. Oleh karena itu, kaum musyrik Mekah bergembira atas kemenangan itu, sebagai kemenangan agama politeisme yang mempercayai "banyak Tuhan", atas agama Samawi yang menganut agama tauhid. Sebaliknya kaum Muslimin waktu itu bersedih hati karena sikap menentang kaum musyrik Mekah semakin bertambah. Mereka mencemooh kaum Muslimin dengan mengatakan bahwa dalam waktu dekat mereka juga akan hancur, sebagaimana kehancuran bangsa Romawi yang menganut agama Nasrani. Lalu ayat ini turun untuk menerangkan bahwa bangsa Romawi yang kalah itu, akan mengalahkan bangsa Persia dalam waktu yang tidak lama, hanya dalam beberapa tahun lagi.
Sejarah mencatat bahwa tahun 622 Masehi, yaitu setelah tujuh atau delapan tahun kekalahan bangsa Romawi dari bangsa Persia itu, peperangan antara kedua bangsa itu berkecamuk kembali untuk kedua kalinya. Pada permulaan terjadinya peperangan itu telah tampak tanda-tanda kemenangan bangsa Romawi. Sekalipun demikian, ketika sampai kepada kaum musyrik Mekah berita peperangan itu, mereka masih mengharapkan kemenangan berada di pihak Persia. Oleh karena itu, Ubay bin Khalaf ketika mengetahui Abu Bakar hijrah ke Medinah, ia minta agar putra Abu Bakar, yaitu 'Abdurrahman, menjamin taruhan ayahnya, jika Persia menang. Hal ini diterima oleh 'Abdurrahman.
Pada tahun 624 Masehi, terjadilah perang Uhud. Ketika Ubay bin Khalaf hendak pergi memerangi kaum Muslimin, 'Abdurrahman melarangnya, kecuali jika putranya menjamin membayar taruhannya, jika bangsa Romawi menang. Maka Abdullah bin Ubay menerima untuk menjaminnya.
Jika melihat berita di atas, maka ada beberapa kemungkinan sebagai berikut: pertama, pada tahun 622 Masehi, perang antara Romawi dan Persia telah berakhir dengan kemenangan Romawi. Akan tetapi, karena hubungan yang sukar waktu itu, maka berita itu baru sampai ke Mekah setahun kemudian, sehingga Ubay minta jaminan waktu Abu Bakar hijrah, sebaliknya 'Abdurrahman minta jaminan pada waktu Ubay akan pergi ke Perang Uhud. Kedua, peperangan itu berlangsung dari tahun 622-624 Masehi, dan berakhir dengan kemenangan bangsa Romawi.
Dari peristiwa di atas dapat dikemukakan beberapa hal dan pelajaran yang perlu direnungkan dan diamalkan.
Pertama: Ada hubungan antara kemusyrikan dan kekafiran terhadap dakwah dan iman kepada Allah. Sekalipun negara-negara dahulu belum mempunyai sistem komunikasi yang canggih dan bangsanya pun belum mempunyai hubungan yang kuat seperti sekarang ini, namun antar bangsa-bangsa itu telah mempunyai hubungan batin, yaitu antara bangsa-bangsa yang menganut agama yang bersumber dari Tuhan di satu pihak, dan bangsa-bangsa yang menganut agama yang tidak bersumber dari Tuhan pada pihak yang lain. Orang-orang musyrik Mekah menganggap kemenangan bangsa Persia atas bangsa Romawi (Nasrani), sebagai kemenangan mereka juga karena sama-sama menganut politeisme. Sedangkan kaum Muslimin merasakan kekalahan bangsa Romawi yang beragama Nasrani sebagai kekalahan mereka pula, karena merasa agama mereka berasal dari sumber yang satu. Hal ini merupakan suatu faktor nyata yang perlu diperhatikan kaum Muslimin dalam menyusun taktik dan strategi dalam berdakwah.
Kedua: Kepercayaan yang mutlak kepada janji dan ketetapan Allah. Hal ini tampak pada ucapan-ucapan Abu Bakar yang penuh keyakinan tanpa ragu-ragu di waktu menetapkan jumlah taruhan dengan Ubay bin Khalaf. Harga unta seratus ekor sangat tinggi pada waktu itu, sehingga kalau tidak karena keyakinan akan kebenaran ayat-ayat Al-Qur'an yang ada di dalam hati Abu Bakar, tentu beliau tidak akan berani mengadakan taruhan sebanyak itu, apalagi jika dibaca sejarah bangsa Romawi pada waktu kekalahan itu dalam keadaan kocar-kacir. Amat sukar diramalkan mereka sanggup mengalahkan bangsa Persia yang dalam keadaan kuat, hanya dalam tiga sampai sembilan tahun mendatang. Keyakinan yang kuat seperti keyakinan Abu Bakar itu merupakan keyakinan kaum Muslimin, yang tidak dapat digoyahkan oleh apa pun, sekalipun dalam bentuk siksaan, ujian, penderitaan, pemboikotan, dan sebagainya. Hal ini merupakan modal utama bagi kaum Muslimin menghadapi jihad yang memerlukan waktu yang lama di masa yang akan datang. Jika kaum Muslimin mempunyai keyakinan dan berusaha seperti kaum Muslimin di masa Rasulullah, pasti pula Allah mendatangkan kemenangan kepada mereka.
Ketiga: Terjadinya suatu peristiwa adalah urusan Allah, tidak seorangpun yang dapat mencampurinya. Allah-lah yang menentukan segalanya sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Hal ini berarti bahwa kaum Muslimin harus mengembalikan segala urusan kepada Allah saja, baik dalam kejadian seperti di atas, maupun pada kejadian dan peristiwa yang merupakan keseimbangan antara situasi dan keadaan. Kemenangan dan kekalahan, kemajuan dan kemunduran suatu bangsa, demikian pula kelemahan dan kekuatannya yang terjadi di bumi ini, semuanya kembali kepada Allah. Dia berbuat menurut kehendak-Nya. Semua yang terjadi bertitik tolak kepada kehendak Zat yang mutlak itu. Jadi berserah diri dan menerima semua yang telah ditentukan Allah adalah sifat yang harus dimiliki oleh seorang mukmin. Hal ini bukanlah berarti bahwa usaha manusia tidak ada harganya sedikit pun, karena hal itu merupakan syarat berhasilnya suatu pekerjaan. Dalam suatu hadis diriwayatkan bahwa seorang Arab Badui melepaskan untanya di muka pintu masjid Rasulullah, kemudian ia masuk ke dalamnya sambil berkata, "Aku bertawakal kepada Allah," lalu Nabi bersabda:
Ikatlah unta itu sesudah itu baru engkau bertawakal. (Riwayat at-Tirmidzi dari Anas bin Malik )
Berdasarkan hadis ini, seorang muslim disuruh berusaha sekuat tenaga, kemudian ia berserah diri kepada Allah tentang hasil usahanya itu.
Akhir ayat ini menerangkan bahwa kaum Muslimin bergembira ketika mendengar berita kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia. Mereka bergembira karena:
1.Mereka telah dapat membuktikan kepada kaum musyrik Mekah atas kebenaran berita-berita yang ada dalam ayat Al-Qur'an.
2.Kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia merupakan kemenangan agama Samawi atas agama ciptaan manusia.
3.Kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia mengisyaratkan kemenangan kaum Muslimin atas orang-orang kafir Mekah dalam waktu yang tidak lama lagi.
Penjelasan ayat 1–7 sekaligus.
"Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Ro-mawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena per-tolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Rum: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Bangsa Persia dan Bangsa Romawi pada saat itu me-rupakan dua negara super power yang ada di muka bumi ini; dan selalu terjadi peperangan di antara dua bangsa ini sebagaimana biasa terjadi pada bangsa-bangsa yang selevel. Bangsa Persia ada-lah penyembah api, sedangkan bangsa Romawi adalah ahli kitab yang berafiliasi kepada Taurat dan Injil, dan mereka lebih dekat kepada kaum Muslimin daripada bangsa Persia. [Orang-orang Mukmin] sangat senang kalau bangsa Romawi menang dan dapat mengalahkan bangsa Persia. Sedangkan orang-orang musyrikin (Arab), karena kesamaan mereka dalam kesyirikan, sedangkan bangsa Persia berada dalam kesyirikan, maka mereka senang kalau bangsa Persia menang atas bangsa Romawi. Lalu ternyata bangsa Persia dapat menang atas bangsa Romawi, dan mereka dapat me-ngalahkan bangsa Romawi, namun tidak sampai menguasai kera-jaan mereka, bahkan sedikit pun dari daerah kekuasaan Romawi. Maka kaum musyrikin Arab pun sangat bergembira dengannya, sedangkan kaum Muslimin bersedih. Maka dari itu Allah menga-barkan kepada mereka dan menjanjikan bahwa bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia. ﴿ فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ ﴾ "Dalam beberapa tahun lagi," sembilan atau dela-pan tahun lagi, atau semisal hal itu, tidak lebih dari sepuluh tahun lagi dan tidak pula kurang dari tiga tahun; dan sesungguhnya kemenangan bangsa Persia terhadap bangsa Romawi, lalu keme-nangan bangsa Romawi terhadap bangsa Persia semuanya terjadi atas kehendak dan kekuasaanNya. Dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴿ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ مِن قَبۡلُ وَمِنۢ بَعۡدُۚ ﴾ "Milik Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya," jadi kemenangan dan pertolongan itu tidak hanya sekedar disebab-kan terwujudnya sebab kausalitas (fasilitas dan perlengkapan. Pent), melainkan pasti diiringi oleh qadha` dan qadar. ﴿ وَيَوۡمَئِذٖ ﴾ "Dan di hari." Maksudnya, pada hari bangsa Romawi dapat memenangkan bangsa Persia dan mengalahkan mereka, ﴿ يَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ 4 بِنَصۡرِ ٱللَّهِۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُۖ ﴾ "bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dike-hendakiNya." Maksudnya, mereka bergembira dengan kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia, sekalipun semuanya adalah orang-orang kafir, akan tetapi sebagian keburukan (suatu kaum) itu lebih ringan daripada (keburukan dari kaum) yang lain. Dan pada saat itu pula kaum musyrikin berduka cita. ﴿ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴾ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang memilki keperkasaan yang de-ngannya Dia menaklukkan seluruh makhluk; Dia memberikan kekuasaan (kerajaan) kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan mencopot kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki, Dia memulia-kan siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki. ﴿ ٱلرَّحِيمُ ﴾ "Lagi Maha Penyayang" terhadap hamba-hambaNya yang beriman, yang mana Dia menyediakan segala sebab kausalitas yang dapat membuat mereka bahagia, dan meno-long mereka yang sama sekali di luar perhitungan.
(6) ﴿ وَعۡدَ ٱللَّهِۖ لَا يُخۡلِفُ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥ ﴾ "Sebagai janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya," maka dari itu yaki-nilah hal itu dan pastikanlah; dan ketahuilah bahwasanya yang demikian itu pasti terjadi. Setelah ayat-ayat ini diturunkan, yang di dalamnya terdapat janji ini, maka kaum Muslimin pun langsung membenarkannya, sedangkan orang-orang kafir mendustakannya hingga sebagian kaum Muslimin dan sebagian kaum musyrikin melakukan taruhan dalam waktu beberapa tahun yang telah me-reka tentukan. Maka setelah masa yang telah ditetapkan oleh Allah tiba, bangsa Romawi memperoleh kemenangan atas bangsa Persia, dan Romawi berhasil mengusir mereka dari daerah-daerah mereka yang sebelumnya diduduki oleh bangsa Persia, dan dengan demi-kian terbuktilah apa yang Allah janjikan. Ini termasuk perkara ghaib yang diberitakan Allah سبحانه وتعالى sebelum peristiwa ini terjadi, dan ada pada zaman orang-orang yang mana Allah سبحانه وتعالى memberitakan-nya kepada kaum Muslimin dan kaum musyrikin. ﴿ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴾ "Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah itu benar. Maka dari itu terdapat seke-lompok manusia di antara mereka yang mendustakan janjiNya dan mendustakan ayat-ayatNya.
(7) Dan mereka, orang-orang yang tidak mengetahui. Mak-sudnya, mereka yang tidak mengetahui esensi sesuatu dan akibat-akibatnya, sebenarnya ﴿ يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴾ "hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia," lalu mereka melihat kepada sebab-musabab dan memastikan kejadian perkara yang sudah terbetik dalam pikiran mereka, yang telah terpenuhi semua sebab musabab keberadaannya; dan mereka meyakini ketidakterjadinya suatu perkara yang mana mereka sama sekali belum melihat keberadaan sebab-sebab yang bisa menimbulkan kejadiannya. Jadi, mereka sangat tergantung kepada sebab-sebab, tanpa melihat kepada (Allah) yang menurunkan sebab-sebabnya, yang bertindak padanya, ﴿ وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ﴾ "sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." Hati mereka, hawa nafsu mereka dan kemauan mereka sudah ter-fokus kepada dunia, kesenangan dan gemerlapnya, lalu berbuat hanya untuk itu, berupaya dan menuju kepadanya, berpaling dan lupa terhadap kehidupan akhirat. Ia sama sekali tidak merindu-kan surga, tidak pula takut akan api neraka, tidak juga berdiri di hadapan Allah dan berjumpa denganNya membuatnya takut dan membuatnya ngeri. Ini adalah tanda kesengsaraan, dan cirinya adalah lalai akan kehidupan akhirat. Yang mengherankan adalah bahwa sesungguhnya kelompok manusia yang satu ini sudah mencapai pada kecerdasan dan ke-pintaran yang sangat tinggi terhadap lahiriah kehidupan dunia hingga sampai pada tingkat mencengangkan akal dan menakjub-kan hati. Mereka bisa memperlihatkan berbagai keajaiban nuklir dan listrik, peralatan transportasi darat, laut dan udara yang de-ngannya mereka menjadi unggul. Mereka berhasil menampakkan dan membanggakan akal mereka, dan mereka memandang bangsa-bangsa lain tidak mampu melakukan apa yang telah ditakdirkan Allah agar mampu mereka lakukan. Maka mereka memandang bangsa lain dengan pandangan hina dan rendah, sedangkan dalam masalah agama mereka merupakan manusia yang paling bodoh dan paling lalai terhadap kehidupan akhirat, serta paling dangkal pengetahuannya terhadap akibat-akibat perbuatan mereka. Mereka telah dilihat oleh orang-orang yang berakal dan ber-pandangan tajam sedang terombang-ambing dalam kejahilan, ter-gelimang dalam kesesatan, terbuai dalam kebatilan. Mereka telah melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. Lalu para ahli pikir itu melihat kepada apa yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى dan kemampuan yang Allah anugerahkan kepada mereka (sekelompok manusia itu. Pent) berupa pemikiran-pemikiran yang sangat cang-gih dalam permasalahan dunia dan lahirnya, sedangkan mereka tidak dikaruniai akal yang sangat jenius. Maka para ahli pemikiran yang mendalam (tajam) itu mengetahui bahwasanya segala perkara adalah wewenang Allah dan keputusan terhadap manusia adalah milikNya. Ia tiada lain melainkan hanya taufikNya atau pengabai-anNya. Maka dari itu mereka (para ahli pemikiran yang mendalam) takut kepada Allah, Rabb mereka, dan mereka memohon kepada-Nya semoga Dia berkenan melengkapi cahaya akal dan iman yang telah dianugerahkanNya kepada mereka hingga mereka bisa sampai kepadaNya dan menempati haribaanNya. Semua perkara di atas, kalau saja disertai iman dan dibangun di atasnya, tentu ia akan membuahkan kemajuan yang sangat tinggi dan kehidupan yang baik. Akan tetapi, karena kebanyakannya dibangun di atas landasan ilhad (kekafiran), maka ia tidak membuahkan sesuatu ke-cuali dekadensi moral dan segala sebab kebinasaan dan kehancuran.
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini tidak memuat hukum ikhfa, idgham, iqlab, ghunnah, maupun qalqalah; hurufnya dibaca jelas (izhar) sesuai makhrajnya.