Surat As-Saffat Ayat 13
QS. As-Saffat: 13 · Juz 23 · Makkiyah
وَإِذَا ذُكِّرُواْ لَا يَذۡكُرُونَ
Wa iżā żukkirū lā yażkurūn(a).
Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada mengingatnya.
Baca dalam Surat As-SaffatQS. As-Saffat: 13 · Juz 23 · Makkiyah
وَإِذَا ذُكِّرُواْ لَا يَذۡكُرُونَ
Wa iżā żukkirū lā yażkurūn(a).
Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada mengingatnya.
Baca dalam Surat As-SaffatAllah menegaskan bahwa karena kekerasan hati orang-orang yang ingkar tadi, maka tidak akan ada manfaatnya apabila mereka diberi nasihat. Karena jiwa mereka telah dikotori tingkah laku dan perbuatan mereka sendiri.
Bilamana diperlihatkan kepada mereka dalil-dalil dan mukjizat-mukjizat yang menunjukkan kebenaran Nabi, mereka pun menertawakan dan memperolok-olokkannya serta menuduh Nabi sebagai seorang tukang sihir yang telah memperdaya pikiran mereka dan ingin menjauhkan mereka dari sembahan-sembahan nenek moyang mereka. Mereka juga mengatakan bahwa segala dalil-dalil kenabian yang beliau sampaikan dipandang sebagai permainan sihir. Mereka mengatakan bahwa semua bukti-bukti kebenaran yang dibawa Nabi itu tidak ada artinya sama sekali. Oleh karena itu, mereka menghindari seruan Nabi dan tetap berpegang kepada agama nenek moyang yang sudah dianut berabad-abad.
(16-17) Allah menunjukkan keingkaran kaum musyrikin terhadap peristiwa-peristiwa pada hari Kiamat. Kejadian-kejadian pada hari Kiamat itu membingungkan akal mereka. Mereka sama sekali tidak dapat mengerti apa yang dikatakan Nabi Muhammad bahwa tulang-belulang yang berserakan dan sudah menjadi tanah dapat dihidupkan kembali. Lebih mengherankan mereka lagi adalah kebangkitan nenek moyang mereka yang sudah lama terkubur dalam bumi, yang tidak ada bekasnya lagi, sehingga dengan demikian nenek moyang mereka itu tidak dapat hidup kembali. Semua ini ditanyakan mereka kepada Nabi saw.
(18-19) Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar menjawab pertanyaan mereka secara tegas bahwa benar mereka dan nenek moyangnya akan dibangkitkan kembali sesudah menjadi tanah. Mereka yang ingkar itu menjadi hina di hadapan Allah Yang Mahatinggi. Sebagaimana Allah berfirman:
Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (al-Mu'min/40: 60)
Dalam ayat lain Allah berfirman:
¦ Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. (an-Naml/27: 87)
Terjadinya hari Kiamat sangatlah mudah bagi Allah. Dengan satu teriakan saja yang ditiupkan dari sangkakala manusia akan bangkit dari kubur dan hidup kembali. Pada waktu itu, mereka akan menyaksikan terlaksananya ancaman Allah.
Penjelasan ayat 12–21 sekaligus.
"Bahkan kamu menjadi heran dan mereka menghinakan kamu. Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada meng-ingatnya. Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda, mereka sangat menghinakan. Dan mereka berkata, 'Ini tiada lain adalah sihir yang nyata.' Apakah apabila kami telah mati dan telah men-jadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)? Katakanlah, 'Ya, dan kamu akan terhina.' Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita!' Inilah Hari Pembalasan. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendus-takannya." (Ash-Shaffat: 12-21).
(12) ﴿ بَلۡ عَجِبۡتَ ﴾ "Bahkan kamu menjadi heran" wahai rasul, atau wahai manusia, kepada pendustaan orang yang mendustakan kebangkitan, setelah kamu memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda, bukti) yang luar biasa dan dalil-dalil yang lurus itu. Ini benar-benar sangat aneh dan mengherankan, sebab ia sudah termasuk hal yang tidak diingkari lagi, ﴿ وَ﴾ "dan" lebih mengheran-kan dari keingkaran mereka dan lebih kentara lagi, adalah bahwa mereka ﴿ ي َ س ْ خ َ ر ُ و ْ ن َ ﴾ "menghinakan" orang yang datang dengan mem-bawa berita tentang kebangkitan. Tidak cukup bagi mereka hanya sekedar mengingkari, hingga mereka tambah dengan memperolok-olokkan perkataan yang haq.
(13) ﴿ وَ﴾ "Dan" termasuk yang mengherankan juga adalah ﴿ إ ِ ذ َ ا ذُكِّرُواْ ﴾ "apabila mereka diingatkan," tentang apa yang mereka ketahui dalam fitrah dan akal mereka sendiri, mereka menyadari-nya dan perhatian mereka dialihkan kepadanya, ﴿ لَا يَذۡكُرُونَ ﴾ "mereka tidak mengingat" nya. Kalau yang demikian itu adalah kebodohan, maka sesungguhnya ia merupakan bukti yang paling kuat yang menunjukkan pada kedunguan mereka yang sangat kentara, di mana mereka diingatkan tentang hal yang sudah ada dalam fitrah dan sudah diketahui oleh akal sehat, tidak ada kesulitan lagi pada-nya. Kalau ia adalah sikap berpura-pura bodoh dan keras kepala, maka hal itu lebih aneh dan lebih mengherankan lagi!
(14) Dan di antara yang mengherankan juga adalah bahwa mereka apabila telah dikemukakan dalil-dalil kepada mereka dan mereka diingatkan dengan ayat-ayat yang biasanya orang-orang yang berakal dan para pakar tunduk kepadanya, maka mereka memperolok-olokkannya dan merasa heran.
(15) Dan di antara yang mengherankan juga adalah perka-taan mereka kepada kebenaran saat datang kepada mereka,﴿ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴾ "Ini tiada lain adalah sihir yang nyata." Mereka menjadikan sesuatu yang paling tinggi lagi paling mulia, yaitu al-haq (kebenaran), pada tingkat sesuatu yang paling hina dan paling tercela, sihir.
(16-17) Dan di antara yang aneh juga adalah mereka meng-kiaskan (menganalogikan) kekuasaan Rabb Pencipta langit dan bumi ini dengan kekuasaan manusia yang sangat rapuh dari segala sisinya. Mereka berkata dengan nada mengingkari dan mengang-gap tidak mungkin akan terjadi,﴿ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ 16 أَوَءَابَآؤُنَا ٱلۡأَوَّلُونَ 17 ﴾ "Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)?"
(18) Setelah sedemikian rupa puncak sikap yang mereka miliki, maka Allah memerintah RasulNya agar menjawab mereka dengan jawaban yang mengandung pemberian ancaman (menakut-nakuti) terhadap mereka, seraya berfirman, ﴿ قُلۡ نَعَمۡ ﴾ "Katakanlah, 'Ya'," kalian dan bapak-bapak kalian terdahulu akan dibangkitkan, ﴿ وَأَنتُمۡ دَٰخِرُونَ ﴾ "dan kamu akan terhina," nista lagi tercela, kalian tidak bisa bertahan dan kalian tidak sulit bagi kekuasaan Allah.
(19) ﴿ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴾ "Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja" yang ditiupkan oleh Israfil pada sangkakala, ﴿ فَإِذَا هُمۡ ﴾ "maka tiba-tiba mereka" dibangkitkan dari kuburannya, ﴿ يَنظُرُونَ ﴾ "mereka melihat," sebagaimana penciptaan mereka semula, mereka dibangkitkan dengan seluruh bagian-bagiannya dalam keadaan kaki telanjang, badan telanjang, dan tidak bersunat.
(20) Dan pada saat itu mereka menampakkan penyesalan, kehinaan, dan kerugian, dan mereka mengucapkan kecelakaan, ﴿ وَقَالُواْ يَٰوَيۡلَنَا هَٰذَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴾ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita'." Inilah Hari Pembalasan," maka mereka mengakui apa yang dahulu di dunia mereka olok-olokkan.
(21) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴿ هَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡفَصۡلِ ﴾ "Inilah hari keputusan" di antara manusia tentang urusan yang bersangkutan dengan Tuhan mereka, yaitu berupa hak-hak dan juga di antara sesama mereka.
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini tidak memuat hukum ikhfa, idgham, iqlab, ghunnah, maupun qalqalah; hurufnya dibaca jelas (izhar) sesuai makhrajnya.