Surat At-Tin Ayat 3
QS. At-Tin: 3 · Juz 30 · Makkiyah
وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ
Wa hāżal-baladil-amīn(i).
dan demi negeri (Makkah) yang aman ini,
Baca dalam Surat At-TinQS. At-Tin: 3 · Juz 30 · Makkiyah
وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ
Wa hāżal-baladil-amīn(i).
dan demi negeri (Makkah) yang aman ini,
Baca dalam Surat At-TinSelanjutnya Allah bersumpah dengan "negeri yang damai". Maksudnya adalah Mekah, tempat Nabi Muhammad lahir dan menerima wahyu. Bahwa Mekah adalah tempat asal Nabi Muhammad dinyatakan pula antara lain dalam Surah Muhammad/47: 13:
Dan betapa banyak negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka; maka tidak ada seorang pun yang menolong mereka. (Muhammad/47: 13)
Dalam ayat ini terdapat informasi bahwa beliau telah dipaksa meninggalkan negeri asalnya, yaitu tempat kelahirannya (Mekah) dan hijrah ke Medinah.
Berdasarkan ayat-ayat lain lebih tepat dipahami bahwa ketiga ayat di atas menyatakan tempat ketiga nabi itu lahir atau menerima tugas kenabian mereka. Di dalam ayat-ayat lain, ketiga nabi itu memang sering disebutkan bersamaan, misalnya dalam Surah as-saff/61: 5-6:
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Wahai kaumku! Mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu?" Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, "Wahai Bani Israil! Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Namun ketika rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, "Ini adalah sihir yang nyata." (as-saff/61: 5-6)
Dalam Perjanjian Lama, Kitab Ulangan 33 ayat 2 juga dinyatakan tempat ketiga nabi itu, "Tuhan telah datang dari Sina, dan terbit kepada mereka di Seir, kelihatan Dia dengan gemerlapan cahayanya dari Gunung Paran." Sina adalah Sinai tempat Nabi Musa menerima wahyu, Seir adalah pegunungan di Baitul Maqdis tempat Nabi Isa lahir dan menerima kenabian, dan pegunungan Paran adalah pegunungan Mekah, tempat Nabi Muhammad lahir dan menerima kenabiannya.
Penjelasan ayat 1–8 sekaligus.
"Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Makkah) ini yang aman, sungguh Kami telah men-ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apa-kah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" (At-Tin: 1-8).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) ﴿ وَٱلتِّينِ ﴾ "Demi (buah) Tin," yaitu buah tin yang lazim di-kenal dan juga ﴿ وَٱلزَّيۡتُونِ ﴾ "(buah) Zaitun." Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan kedua pohon ini karena banyaknya manfaat pohon dan buahnya dan karena keduanya begitu dominan di negeri Syam tempat kena-bian Nabi Isa putra Maryam عليه السلام. ﴿ وَطُورِ سِينِينَ ﴾ "Dan demi bukit Sinai," yaitu Thursina, tempat kenabian Musa عليه السلام. ﴿ وَهَٰذَا ٱلۡبَلَدِ ٱلۡأَمِينِ ﴾ "Dan demi kota ini yang aman," yaitu Makkah al-Mukarramah, tempat ke-nabian Muhammad a. Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan tempat-tempat suci ini yang Dia pilih dan dari tempat-tempat itu Allah سبحانه وتعالى mengutus nabi-nabi paling mulia.
(4) Yang disumpahkan adalah FirmanNya, ﴿ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ﴾ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," yakni dalam bentuk ciptaan yang sempurna, bagian-bagian tubuh yang saling sesuai, tegak berdiri dan tidak keku-rangan apa pun yang diperlukan secara lahir dan batin.
(5-6) Tapi meski dikaruniai berbagai nikmat agung ini yang seharusnya disyukuri, kebanyakan manusia menyimpang, tidak mensyukuri Dzat yang memberi nikmat tersebut, justru sibuk de-ngan senda gurau dan bermain-main. Mereka merelakan dirinya dengan hal-hal rendahan dan akhlak tercela, hingga Allah سبحانه وتعالى meng-hempaskan mereka ﴿ أَسۡفَلَ سَٰفِلِينَ ﴾ "ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)," yakni neraka paling bawah tempat para pendurhaka yang membangkang Rabb mereka, kecuali orang yang diberi anugerah keimanan dan amal shalih serta akhlak mulia lagi luhur oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴿ فَلَهُمۡ ﴾ "maka bagi mereka," dengan posisi-posisi tinggi itu ada ﴿ أَجۡرٌ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴾ "pahala yang tiada putus-putusnya," yakni tidak terhenti-henti bahkan kelezatan berlimpah, kebahagiaan terus-menerus, dan nikmat yang amat banyak dalam keabadian yang tiada akhir, dan nikmat yang tidak berubah, buah dan naungannya kekal.
(7-8) ﴿ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعۡدُ بِٱلدِّينِ ﴾ "Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?" Yakni apa yang membuatmu mendustakan adanya Hari Pembalasan amal perbuatan wahai manusia? Engkau telah melihat banyak tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang membuatmu yakin dan berbagai nikmatNya yang mengharuskanmu agar tidak meng-kufurinya sedikit pun. ﴿ أَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَحۡكَمِ ٱلۡحَٰكِمِينَ 8 ﴾ "Bukankah Allah adalah Hakim yang paling adil?" Lantas patutkah hikmahNya mengharus-kanNya meninggalkan manusia sia-sia, tidak diperintah, dilarang, diberi pahala dan siksa? Ataukah Yang menciptakan manusia dalam berbagai tahap, memberi mereka berbagai nikmat, kebajikan, dan kebaikan yang tidak terkira, merawat mereka dengan baik pasti mengembalikan mereka ke negeri keabadian dan tujuan mereka yang mereka tuju dan ikuti?
Selesai. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini tidak memuat hukum ikhfa, idgham, iqlab, ghunnah, maupun qalqalah; hurufnya dibaca jelas (izhar) sesuai makhrajnya.