Surat Taha Ayat 118
QS. Taha: 118 · Juz 16 · Makkiyah
إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ
Inna laka allā tajū‘a fīhā wa lā ta‘rā.
Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang,
Baca dalam Surat TahaQS. Taha: 118 · Juz 16 · Makkiyah
إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ
Inna laka allā tajū‘a fīhā wa lā ta‘rā.
Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang,
Baca dalam Surat TahaAllah menjanjikan kepada Adam bahwa selama di dalam surga dia tidak akan merasa lapar dan haus karena berbagai macam makanan yang enak, minuman yang beragam serta buah-buahan selalu disediakan baginya. Dia tidak akan pernah merasa haus karena disediakan pula untuknya beraneka ragam minuman yang lezat dan tidak akan terkena sengatan matahari yang panas karena selalu berada di tempat yang teduh dengan angin yang menghembus sepoi-sepoi basah. Dia tidak akan telanjang karena Allah telah memberinya pakaian yang sangat bagus dan indah. Semua yang disenangi dan disukai dapat dinikmati dalam surga seperti dalam firman-Nya:
Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Fushshilat/41: 31-32)
Dan firman-Nya:
Dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. (az-Zukhruf/43: 71)
Penjelasan ayat 116–122 sekaligus.
"Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat, 'Su-judlah kamu kepada Adam,' maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. Maka Kami berkata, 'Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan bah-wasanya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.' Kemudian setan membisik-kan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, 'Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa.' Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesatlah ia. Kemudian Rabbnya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan mem-berinya petunjuk." (Thaha: 116-122).
(116) Usai Allah menyempurnakan penciptaan Adam de-ngan TanganNya, mengajarinya seluruh nama, mengutamakan dan memuliakannya, maka Dia memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai tanda pemuliaan dan pengagungan serta penghormatan baginya. Mereka bersegera sujud dalam keadaan taat. Di tengah mereka ada iblis. Ia menyombongkan diri terhadap perintah Rabbnya, enggan bersujud kepada Adam. Ia berkata, ﴿ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ 12 ﴾ "Saya lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedang Engkau menciptakannya dari tanah." (Al-A'raf: 12).
(117-119) Saat itulah, menjadi jelas permusuhan iblis yang memuncak terhadap Adam dan istrinya, ketika dia menjadi musuh bagi Allah. Sudah terlihat kedengkiannya, yang memicu faktor permusuhannya. Maka Allah memperingatkan Adam dan istrinya dari (bahaya) iblis. Allah berfirman, "Jangan sampai dia, ﴿ يُخۡرِجَنَّكُمَا مِنَ ٱلۡجَنَّةِ فَتَشۡقَىٰٓ 117 ﴾ 'mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebab-kan kamu menjadi celaka'." Yaitu jika setan (berhasil) mengeluarkan-mu darinya, padahal di dalamnya kamu mendapatkan rizki yang menyenangkan dan kenyamanan yang sempurna. ﴿ إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعۡرَىٰ 118 وَأَنَّكَ لَا تَظۡمَؤُاْ فِيهَا وَلَا تَضۡحَىٰ 119 ﴾ "Sesungguhnya kamu tidak akan kela-paran di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan bahwa kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya," maksudnya, matahari tidak mengenaimu dengan terik panasnya. Allah menjamin bagi beliau kontinyuitas suplai makanan, mi-numan, sandang, air, tanpa kepayahan dan kecapaian. Akan tetapi, Allah melarangnya dari memakan (buah) pepohonan tertentu. Allah berfirman, ﴿ وَلَا تَقۡرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ 19 ﴾ "Dan janganlah kalian berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-A'raf: 19).
(120) Setan terus-menerus membisikkan (pikiran jahat) kepada mereka berdua dan mempengaruhinya untuk memandang "makan dari pepohonan itu" sebagai hal yang baik. Setan berkata, ﴿ هَلۡ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ ٱلۡخُلۡدِ ﴾ "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi," yaitu [pohon], yang mana siapa saja yang memakan darinya, niscaya dia kekal abadi di surga, ﴿ وَمُلۡكٖ لَّا يَبۡلَىٰ 120 ﴾ "dan kera-jaan yang tidak akan binasa," maksudnya yang tidak terputus, jika engkau mengkonsumsi (sesuatu) darinya.
(121) Setan mendatanginya dalam rupa orang yang berniat baik, bertutur kata lembut, maka Adam terpedaya dengannya. Kemudian mereka berdua memakannya. Lalu terjatuhlah sesuatu yang ada di tangannya, dan lenyaplah pakaian mereka, maksiat mereka pun menjadi jelas. Aurat masing-masing terlihat oleh yang lain, yang sebelumnya mereka dalam keadaan tertutup auratnya. Mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun pohon-pohon surga untuk menutupi diri dengannya. Mereka dirundung oleh malu yang hanya Allah saja mengetahui tingkat rasa malu mereka. ﴿ وَعَصَىٰٓ ءَادَمُ رَبَّهُۥ فَغَوَىٰ 121 ﴾ "Dan durhakalah Adam kepada Rabbnya, lalu sesat-lah ia," mereka berdua pun bersegera bertaubat dan kembali kepa-daNya dengan berkata,
(122)(Allah تعالى berfirman), ﴿ قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 23 ﴾ "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, nis-caya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 23). Kemudian Rabbnya mengistimewakan dan memilihnya serta memudahkan baginya untuk bertaubat. Maka Allah menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Pasca taubat, kondisi beliau lebih baik daripada sebelumnya. Tipu daya musuh kembali ke pemiliknya, usaha makarnya tidak bertaji. Sementara itu, kenikmatan yang tercurahkan kepada Adam dan anak cucunya semakin lengkap. Kewajiban mereka adalah menggunakannya dengan baik dan mengakui (nikmat itu berasal dari Allah), serta selalu waspada terhadap musuh yang tetap meng-intai lagi menunggu mereka siang dan malam. ﴿ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ 27 ﴾ "Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari (suatu tempat) yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesung-guhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (Al-A'raf: 27).
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini memuat 1 bacaan bertajwid: ghunnah (1).
Nun atau mim bertasydid didengungkan sekitar dua harakat.