Surat Al-Lahab Ayat 2
QS. Al-Lahab: 2 · Juz 30 · Makkiyah
مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ
Mā agnā ‘anhu māluhū wa mā kasab(a).
Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
Baca dalam Surat Al-LahabQS. Al-Lahab: 2 · Juz 30 · Makkiyah
مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ
Mā agnā ‘anhu māluhū wa mā kasab(a).
Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
Baca dalam Surat Al-LahabDalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa apa yang menjadi kebanggaan Abu Lahab dalam hidup, yaitu harta dan kedudukan, ternyata sama sekali tidak dapat menyelamatkannya dari azab Allah pada hari Kiamat. Begitu pula usahanya untuk memusuhi dan mengalahkan Nabi Muhammad tidak berhasil sama sekali.
Abu Lahab sangat membenci Nabi saw dan paling gigih mengajak orang untuk menentangnya dan paling kasar menghadapinya. Raba'ah bin 'Ubbad berkata:
Saya melihat Nabi Muhammad saw pada masa Jahiliah di pasar dzu al-Majaz bersabda, "Ucapkanlah tiada Tuhan melainkan Allah niscaya kamu akan berbahagia!" Orang-orang berkumpul di sekitar beliau. Di belakang beliau seorang laki-laki, putih warna mukanya, juling matanya, mempunyai dua untaian rambut di kepalanya, berkata, "Dia (Muhammad) beragama sabi' dan pembohong." Ia mengikuti Nabi ke mana saja beliau pergi, lalu saya bertanya, "Siapakah orang itu?" Mereka menjawab, "Itu adalah pamannya sendiri Abu Lahab." (Riwayat Ahmad)
Dengan ini dijelaskan bahwa Abu Lahab selalu menentang kebenaran dan menjauhkan orang dari mengikuti kebenaran. Ia menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah seorang pendusta. Ia juga menentang beliau dan merendahkan nilai agama serta petunjuk yang beliau bawa.
Penjelasan ayat 1–5 sekaligus.
"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang ber-gejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut." (Al-Lahab: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
Abu Lahab adalah paman Nabi a. Ia amat memusuhi dan menyakiti beliau. Ia tidak memiliki balas budi dan tidak memiliki semangat kekerabatan. Semoga Allah سبحانه وتعالى memberinya balasan buruk. Karena itu Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya yang merupakan ke-hinaan baginya hingga Hari Kiamat seraya berfirman,
(1) ﴿ تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ ﴾ "Binasalah kedua tangan Abu Lahab," yakni rugi dan celakalah kedua tangannya, ﴿ وَتَبَّ ﴾ "Dan sungguh dia akan binasa," sehingga ia tidak akan beruntung.
(2) ﴿ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ ﴾ "Tidaklah berfaidah kepadanya harta benda-nya" yang dimilikinya sehingga ia bisa berlaku semena-mena dan tidak pula berguna baginya, ﴿ وَمَا كَسَبَ ﴾ "dan apa yang ia usahakan" tidak akan bisa menangkal azab Allah سبحانه وتعالى sedikit pun bila datang menimpa.
(3-5) ﴿ سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ ﴾ "Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak," yakni neraka akan mengelilinginya dari segenap penjuru, dia ﴿ وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ ﴾ "dan istrinya, pembawa kayu bakar." Istrinya juga amat menyakiti Rasulullah a. Abu Lahab dan istrinya saling bahu-membahu dalam dosa dan permusuhan. Ia menimpa-kan keburukan dan berusaha sekuat tenaga menyakiti Rasulullah a sehingga dosa-dosanya menumpuk di atas punggungnya, sama seperti orang yang menumpuk kayu bakar dengan tali yang telah disiapkan di lehernya, ﴿ مِّن مَّسَدِۭ ﴾ "dari sabut," yaitu dari pintalan sabut atau ia membawa kayu bakar di neraka untuk suaminya dengan mengalungi tali dari sabut di lehernya. Bagaimana pun juga dalam ayat ini terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang nyata, karena Allah سبحانه وتعالى menurunkan surat ini ketika Abu Lahab dan istrinya belum mati. Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan bahwa keduanya akan disiksa di neraka dan itu pasti. Sebagai konsekuensinya, keduanya tidak masuk Islam. Dan terjadi-lah seperti yang diberitahukan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini memuat 1 bacaan bertajwid: qalqalah (1).
Huruf ق ط ب ج د yang mati, atau di akhir bacaan, dibaca memantul.