Surat Al-Qalam Ayat 9
QS. Al-Qalam: 9 · Juz 29 · Makkiyah
وَدُّواْ لَوۡ تُدۡهِنُ فَيُدۡهِنُونَ
Waddū lau tudhinu fayudhinūn(a).
Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).
Baca dalam Surat Al-QalamQS. Al-Qalam: 9 · Juz 29 · Makkiyah
وَدُّواْ لَوۡ تُدۡهِنُ فَيُدۡهِنُونَ
Waddū lau tudhinu fayudhinūn(a).
Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).
Baca dalam Surat Al-QalamAyat ini menerangkan bahwa orang-orang musyrik ingin agar Rasulullah mengikuti dan memenuhi permintaan, dan memperkenankan ajakan mereka agar Rasulullah bersikap lunak terhadap mereka. Jika Rasulullah dan kaum Muslimin mau bersikap lunak terhadap mereka, maka mereka akan bersikap lunak pula terhadap beliau dan kaum Muslimin.
Menurut suatu riwayat, orang-orang Quraisy pernah menawarkan kepada Rasulullah agar bersedia mengurangi kegiatan dakwahnya, dan tidak lagi mencela berhala-berhala mereka. Bahkan mereka bersedia mengikuti ajaran Nabi selama sekali waktu, asalkan setelah itu Nabi dan pengikutnya mengikuti ajaran mereka sekali waktu, begitu secara bergilir. Ajakan ini tentu saja ditolak oleh Nabi karena tidak sesuai dengan dakwah yang dibawanya untuk meninggalkan kemusyrikan dan mengganti dengan ajaran tauhid.
Ajakan ini bermula ketika Rasulullah menyampaikan agama Allah kepada orang-orang musyrik Mekah dengan terang-terangan dan penuh keberanian, walaupun pada waktu itu kaum Muslimin dalam keadaan lemah dan musuh dalam keadaan kuat. Seluruh alasan-alasan yang dikemukakan Rasulullah yang berhubungan dengan bukti kebenaran risalahnya tidak dapat dijawab oleh orang-orang musyrik. Bahkan sebaliknya, jawaban mereka itu menunjukkan kelemahan kepercayaan yang mereka anut. Oleh karena itu, mereka meminta Rasulullah agar bersikap lunak terhadap mereka dan menghentikan celaan-celaan beliau kepada berhala-berhala yang mereka sembah. Jika Rasulullah saw bersedia menerima tawaran itu, maka mereka bersedia pula memenuhi keinginan-keinginan beliau, seperti bersikap lunak terhadap Rasulullah saw dan kaum Muslimin. Mereka juga bersedia ikut menyembah Allah di samping tetap dibolehkan menyembah tuhan-tuhan mereka dan melaksanakan kebiasaan nenek moyang mereka. Mereka juga bersedia mencarikan istri yang disenangi Nabi saw atau mengumpulkan harta yang diinginkannya.
Dilandasi keinginan untuk meringankan penderitaan yang sedang dialami sahabat-sahabatnya akibat siksaan yang dilakukan orang-orang musyrik, maka terlintas dalam pikiran Nabi Muhammad untuk bersikap lunak terhadap orang-orang musyrik dengan menerima sebahagian tawaran mereka. Maka turunlah ayat ini yang memperingatkan Nabi saw agar jangan sekali-kali bersikap lunak terhadap mereka, tetapi tetap seperti biasa, yaitu mengambil sikap keras dan tegas.
Ayat ini senada dengan firman Allah:
Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka. Jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) dua kali lipat di dunia ini dan dua kali lipat setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami. (al-Isra'/17: 74-75)
Jika dikaji maksud ayat ini, akan diketahui bahwa ada tujuan tertentu dari orang-orang musyrik, yang tidak boleh diketahui oleh Rasulullah, dalam mengemukakan tawaran mereka kepada beliau. Mereka ingin menipu Rasulullah saw dengan ajakan itu, dimana jika diterima, maka agama Islam yang baru disampaikan itu akan bercampur dengan unsur-unsur syirik. Akan terjadi saling mempengaruhi antara kedua macam kepercayaan itu, sehingga agama Islam tidak lagi mempunyai akidah tauhid yang murni.
Teguran Allah kepada Rasulullah saw ini juga merupakan teguran kepada seluruh kaum Muslimin, agar mereka berhati-hati dalam soal akidah. Jangan sekali-kali memasukkan ke dalam akidah Islam unsur syirik walaupun sedikit.
Penjelasan ayat 8–16 sekaligus.
"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendusta-kan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)." (Al-Qalam: 8-16).
(8) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi Muhammad a, ﴿ فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴾ "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu dan menentang kebenaran, karena mereka adalah orang-orang yang tidak patut untuk diikuti, karena mereka hanya memerintah sesuai kehendak hawa nafsu mereka. Yang mereka inginkan hanyalah kebatilan. Orang yang menaati mereka adalah orang yang mem-persembahkan marabahaya pada dirinya sendiri. Hal ini bersifat umum pada setiap pendusta dan dalam setiap ketaatan yang ber-sumber dari kebohongan, meski tekstual ayat berlaku pada masa-lah khusus, yaitu ketika orang-orang musyrik meminta Nabi a agar tidak mencela tuhan-tuhan dan agama mereka.
(9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴿ وَدُّواْ ﴾ "Maka mereka meng-inginkan," yakni, orang-orang musyrik, ﴿ لَوۡ تُدۡهِنُ ﴾ "supaya kamu bersi-kap lunak," maksudnya, setuju terhadap sebagian keyakinan mereka, baik dengan perkataan, tindakan, maupun bersikap diam dari apa yang seharusnya dikatakan, ﴿ فَيُدۡهِنُونَ ﴾ "lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." Tapi tegaklah dengan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tam-pakkan Agama Islam, karena kesempurnaan penampakan Islam adalah kebalikan dari lawannya dan mencela agama yang menen-tangnya.
(10) ﴿ وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ ﴾ "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah," yaitu orang yang sering bersumpah. Karena hal itu hanya dilakukan oleh pendusta. Dan pendusta itu adalah orang ﴿ مَّهِينٍ ﴾ "hina," yakni buruk jiwanya, kecil semangatnya, dan tidak memiliki keinginan untuk kebaikan, tapi seluruh keinginan-nya hanya untuk kepentingan syahwat dirinya yang tercela.
(11) ﴿ هَمَّازٖ ﴾ "Yang banyak mencela," yaitu banyak mencela dan menuduh orang dengan cara ghibah, mengolok-olok atau yang lainnya. ﴿ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٖ ﴾ "Yang kesana kemari menghambur fitnah," maksud-nya, menyebarkan namimah (adu domba) di antara sesama manu-sia. Namimah adalah menukil perkataan sebagian orang untuk di-sampaikan pada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
(12) ﴿ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴾ "Yang sangat enggan berbuat baik," yang seha-rusnya dilakukan, seperti nafkah wajib, kaffarat, zakat, dan lainnya, ﴿ مُعۡتَدٍ ﴾ "yang melampaui batas" terhadap sesama dengan cara men-zhalimi darah, harta, maupun kehormatan, ﴿ أَثِيمٍ ﴾ "lagi banyak dosa," yakni banyak dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى.
(13) ﴿ عُتُلِّۭ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴾ "Yang kaku kasar, selain dari itu," yakni kasar dan berperangai kaku, keras, tidak tunduk pada kebenaran. ﴿ زَنِيمٍ ﴾ "Yang terkenal kejahatannya," yaitu orang jahat yang tidak memiliki pangkal serta kesiapan untuk melakukan kebaikan namun perangainya adalah akhlak yang paling buruk dan tidak bisa diha-rapkan adanya keberuntungan darinya serta memiliki tanda-tanda keburukan yang dikenal.
(14) Kesimpulannya, Allah سبحانه وتعالى melarang untuk menaati orang-orang tukang bersumpah, pendusta, berjiwa dan berperangai buruk, khususnya perangai yang mencakup rasa ujub terhadap diri sendiri, bersikap sombong terhadap kebenaran dan sesama manusia, menghina orang lain dengan ghibah dan namimah, menu-duh orang lain, dan banyak berbuat maksiat.
(15) Ayat-ayat ini meski turun berkenaan dengan perihal sebagian orang-orang musyrik seperti al-Walid bin al-Mughirah atau lainnya, berdasarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴿ أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ 14 إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ 15 ﴾ "karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala'," yaitu disebab-kan oleh banyaknya harta dan anak, ia pun melampaui batas dan bersikap sombong terhadap kebenaran serta menolaknya ketika kebenaran itu datang padanya dan dianggap sebagai dongeng orang-orang dahulu yang bisa dipercaya dan juga bisa didustakan, tapi ayat ini bersifat umum dan berlaku pada siapa saja yang me-miliki sifat serupa, karena al-Qur`an turun untuk memberi petun-juk pada seluruh manusia, sehingga umat yang pertama dan yang terakhir masuk dalam cakupan ayat-ayat ini yang bisa saja sebagian ayat-ayat al-Qur`an turun karena sebab tertentu atau permasalahan sebagian orang, agar kaidah umum bisa terlihat jelas sehingga masalah-masalah cabang yang tercakup dalam permasalahan-permasalahan umum bisa diketahui.
(16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang yang sifat-sifat-nya sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى di atas akan diberi tanda ﴿ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ ﴾ "di belalai(nya)," di dalam siksaan, di mana Allah akan menyiksanya secara nyata hingga menjadi tanda pada sesuatu yang paling berat baginya, yaitu wajahnya.
Tafsir Kementerian Agama RI.
Ayat ini memuat 2 bacaan bertajwid: qalqalah (2).
Huruf ق ط ب ج د yang mati, atau di akhir bacaan, dibaca memantul.